PADANG — Nama Perguruan Binuang Sati bukan sekadar identitas sebuah perguruan seni bela diri. Di balik nama tersebut tersimpan filosofi budaya Minangkabau yang terinspirasi dari kisah legendaris Kabau Si Binuang, kerbau sakti yang dikenal sebagai peliharaan Cindua Mato dalam khazanah cerita tradisional Minangkabau.
Hal itu dijelaskan Eri Gusnedi Pangulu Sutan, selaku Ketua Pendiri Perguruan Binuang Sati. Menurutnya, pemilihan nama Binuang Sati berangkat dari kekagumannya terhadap kisah kehebatan Si Binuang yang digambarkan memiliki kekuatan luar biasa, keberanian, ketangguhan, dan kesetiaan, Sabtu, 07/10/26 di ruangan kerjanya.
Eri Gusnedi menjelaskan, dalam cerita tradisional Minangkabau, Si Binuang bukanlah kerbau biasa. Sosoknya digambarkan memiliki tubuh yang sangat besar, bahkan diibaratkan sebesar gajah. Kerbau tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan dan kisah kepahlawanan Cindua Mato.
Keistimewaan Si Binuang juga diceritakan memiliki kekuatan yang luar biasa. Dalam sejumlah penggambaran sastra tradisional, tubuhnya dikisahkan menjadi tempat bersarangnya lebah atau tabuhan.
Ketika Si Binuang mengamuk, kawanan lebah tersebut keluar dalam jumlah besar sehingga membuat lawan ketakutan. Bahkan, dalam penggambaran syair tradisional, Si Binuang disebut tidak mempan senjata besi.
Kisah tersebut menjadi gambaran simbolis tentang kesaktian dan keperkasaan yang hidup dalam tradisi sastra Minangkabau.
“Nama Binuang Sati kami ambil dari inspirasi kisah Si Binuang, kerbau peliharaan Cindua Mato yang dikenal memiliki kekuatan luar biasa. Kami ingin mengangkat nilai-nilai ketangguhan, keberanian, kesetiaan, dan kekuatan yang terkandung dalam cerita tersebut menjadi karakter bagi setiap anggota perguruan,” ungkap Eri Gusnedi Pangulu Sutan.
Lebih lanjut, Eri menegaskan bahwa filosofi Binuang Sati tidak dimaknai sebatas kekuatan fisik ataupun kemampuan mengalahkan lawan. Justru, nilai terpenting yang ingin dibangun adalah kekuatan jiwa, keteguhan pendirian, pengendalian diri, serta keluhuran budi pekerti.
Menurutnya, seorang pesilat harus memiliki mental yang kuat, pantang menyerah menghadapi tantangan, berani membela kebenaran, serta mampu menguasai ilmu bela diri dengan penuh tanggung jawab.
“Filosofi Si Binuang mengajarkan bahwa kekuatan harus disertai kebijaksanaan. Berani bukan berarti mencari musuh, kuat bukan berarti menindas, dan memiliki ilmu bukan untuk menyombongkan diri. Seorang pesilat harus mampu menjaga kehormatan, menjunjung kesetiaan, dan membangun persaudaraan,” jelasnya.
Ia juga menguraikan enam nilai filosofi Si Binuang yang menjadi inspirasi pembentukan karakter pesilat Perguruan Binuang Sati.
Pertama, tubuh Si Binuang yang besar dimaknai sebagai simbol jiwa dan mental yang kuat.
Kedua, ketangguhannya yang tidak mudah dikalahkan menjadi pelajaran tentang sikap pantang menyerah.
Ketiga, keberaniannya menghadapi lawan menjadi inspirasi untuk berani membela kebenaran.
Keempat, kekuatan besarnya mengajarkan pentingnya penguasaan ilmu sekaligus kemampuan mengendalikan diri.
Kelima, kesetiaan Si Binuang kepada tuannya menjadi simbol kesetiaan, loyalitas, dan persaudaraan.
Keenam, sosoknya yang ditakuti lawan dimaknai bukan sebagai ajakan untuk menebar ketakutan, melainkan sebagai motivasi agar pesilat disegani karena kehormatan, kedisiplinan, dan akhlaknya.
Eri Gusnedi Pangulu Sutan menambahkan, pendirian Perguruan Binuang Sati juga merupakan bagian dari upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya Minangkabau, seni bela diri tradisional.
Baginya, silat bukan hanya tentang gerakan, jurus, ketangkasan, ataupun kemampuan bertarung. Silat merupakan pendidikan karakter yang mengajarkan tata krama, kedisiplinan, keberanian, penghormatan kepada guru, serta tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Perguruan Binuang Sati ingin melahirkan generasi muda yang tidak hanya tangguh di gelanggang, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin anak-anak yang belajar di Perguruan Binuang Sati memahami bahwa seorang pendekar tidak diukur dari seberapa banyak lawan yang mampu dikalahkannya, tetapi dari seberapa besar kemampuannya menjaga diri, menghormati orang lain, membela kebenaran, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap Perguruan Binuang Sati dapat menjadi wadah pembinaan generasi muda dalam mengembangkan seni bela diri sekaligus menanamkan kecintaan terhadap adat, budaya, dan tradisi Minangkabau. Di perguruan ini tidak hanya melestarikan silat Tradisi, namun juga melestarikan kesenian seperti Randai, Saluang, Rabab dan Talempong.
Perguruan Binuang Sati berkomitmen menjaga warisan dan nilai-nilai luhur budaya Minangkabau kepada generasi penerus.




