PADANG — Upaya melestarikan tradisi dan budaya Minangkabau terus dilakukan Perguruan Binuang Sati melalui kegiatan rutin yang melibatkan generasi muda dan masyarakat. Berangkat dari lingkungan kampung, perguruan yang merupakan bagian dari Pagar Nusa ini berkomitmen menjadikan seni tradisional sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Perguruan Binuang Sati didirikan dan dipimpin oleh Eri Gusnedi Pangulu Sutan. Selain menjadi wadah untuk mempelajari seni bela diri tradisional, perguruan ini juga diarahkan menjadi ruang melestarikan kembali berbagai kesenian tradisional Minangkabau.
Kegiatan pembinaan dilaksanakan secara rutin. Setiap Rabu malam, anggota dan generasi muda mengikuti kegiatan belajar silat tradisi. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan membentuk kemampuan bela diri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kebersamaan, ketekunan, serta filosofi yang terkandung dalam tradisi silat Minangkabau.
Sementara itu, pada malam Minggu, Perguruan Binuang Sati menghadirkan kegiatan Malam Syiar Budaya Minang. Malam tersebut menjadi ruang bagi masyarakat dan anggota perguruan untuk menikmati berbagai penampilan seni tradisional Minangkabau, seperti saluang, rabab, talempong, dan randai ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
Ketua Pendiri Perguruan Binuang Sati, Eri Gusnedi Pangulu Sutan, mengatakan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Tradisi harus terus dipraktikkan dan diwariskan agar tetap hidup di tengah masyarakat.
“Budaya Minangkabau harus kita jaga bersama. Jangan sampai generasi muda hanya mengenal silat, randai, saluang, rabab, dan talempong dari cerita, tayangan atau buku. Mereka harus diberi ruang untuk merasakan langsung bagaimana tradisi itu hidup di tengah masyarakat,” ujarnya, Sabtu 12/09/26 di lapangan Perguruan Binuang Sati.
Menurutnya, kegiatan rutin tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para pendahulu, termasuk nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Wadah Silaturahmi Antarwarga
Selain pelestarian seni tradisional, kegiatan Perguruan Binuang Sati juga diharapkan menjadi media silaturahmi antarwarga dan antarperguruan.
Melalui kegiatan budaya yang dilakukan secara rutin, masyarakat memiliki ruang untuk berkumpul, berinteraksi, dan membangun kebersamaan. Seni tradisional menjadi media yang mempertemukan berbagai kalangan dalam suasana kekeluargaan.
Malam Syiar Budaya Minang juga diharapkan dapat menjadi ruang interaksi lintas generasi. Generasi muda dapat belajar dari pengalaman generasi yang lebih tua, sementara generasi tua dapat kembali menikmati suasana dan kesenian Minangkabau yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya berbicara tentang kesenian, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial dan menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap budaya Minangkabau.
Menumbuhkan Cinta Budaya di Kalangan Generasi Muda
Perguruan Binuang Sati juga menaruh perhatian besar terhadap keterlibatan generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi dan budaya global yang begitu cepat, generasi muda perlu memiliki ruang untuk mengenal akar tradisi dan budayanya sendiri.
Melalui latihan silat dan kegiatan seni tradisional, generasi muda diharapkan tumbuh dengan rasa bangga terhadap budaya Minangkabau.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana mengenalkan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Minangkabau, seperti kebersamaan, gotong royong, disiplin, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta kecintaan terhadap kampung halaman.
Di sisi lain, bagi generasi yang lebih tua, penampilan saluang, rabab, talempong, dan randai dapat menghadirkan kembali kenangan terhadap suasana kampung dan tradisi masa lalu.
Karena itu, Dari Kampung untuk Budaya bukan sekadar slogan. Perguruan Binuang Sati ingin menjadikan kampung sebagai salah satu titik tumbuhnya kembali kecintaan terhadap seni dan tradisi Minangkabau.
Melalui latihan rutin dan kegiatan budaya yang berkelanjutan, Binuang Sati berharap tradisi Minangkabau tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kalau bukan kita yang menjaga dan mengenalkan budaya sendiri kepada anak-anak kita, siapa lagi. Kalau tidak dimulai dari sekarang dan dari lingkungan kita sendiri, kapan lagi,” demikian semangat yang terus dibangun Perguruan Binuang Sati dalam menjaga warisan budaya Minangkabau. (egn)
Menjaga Warisan Leluhur, Perguruan Binuang Sati Lestarikan Tradisi dan Budaya Minangkabau




