Advertisement

Membangunkan Raksasa yang Tertidur: Revitalisasi GOR Rawang untuk Generasi Muda Pariaman

Oleh : Fellia Rahmadhani Ferinandes (Mahasiswa Magister Administrasi Publik, Universitas Andalas)

Jika melewati kawasan Rawang beberapa tahun lalu, mungkin sulit membayangkan bahwa tempat itu pernah menjadi pusat kegiatan olahraga terbesar di Kota Pariaman. Bangunan yang menua, fasilitas yang rusak, serta area yang kurang terawat membuat Gelanggang Olahraga (GOR) Rawang perlahan kehilangan fungsinya sebagai ruang publik.

Kini, pemandangan itu mulai berubah.

Setiap pagi dan sore, masyarakat terlihat memadati lintasan lari yang mengelilingi lapangan utama. Anak-anak bermain, pelajar berolahraga, sementara orang tua berjalan santai menikmati suasana. Meski revitalisasi belum selesai sepenuhnya, GOR Rawang perlahan kembali hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Terletak di Kelurahan Rawang, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Sumatera Barat, GOR ini merupakan salah satu aset publik yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Pariaman. Dibangun pada awal 1990-an dan pernah digunakan sebagai venue olahraga tingkat daerah, kawasan ini sempat menjadi kebanggaan kota.

Sayangnya, seperti banyak aset publik lainnya, perjalanan GOR Rawang tidak selalu berjalan mulus. Dalam waktu yang cukup lama, kawasan ini mengalami penurunan fungsi akibat minimnya pemeliharaan dan pembenahan. Beberapa fasilitas utama mengalami kerusakan dan tidak lagi dapat dimanfaatkan secara optimal.

Tribun penonton yang dahulu ramai kini tampak usang. Kolam renang yang pernah menjadi salah satu fasilitas andalan juga belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sebagian area bahkan sempat dipenuhi rumput liar dan kehilangan daya tarik sebagai sarana olahraga masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana aset publik dapat kehilangan nilai apabila tidak dikelola secara berkelanjutan. Padahal, aset pemerintah dibangun menggunakan uang rakyat dan seharusnya memberikan manfaat yang terus-menerus bagi masyarakat.

Berangkat dari kondisi tersebut, Pemerintah Kota Pariaman di bawah kepemimpinan Wali Kota Pariaman mulai melakukan berbagai upaya untuk menghidupkan kembali kawasan ini.

Konsep yang diusung tidak hanya sekadar memperbaiki bangunan fisik, tetapi menjadikan kawasan tersebut sebagai Youth Center, yaitu pusat aktivitas pemuda, olahraga, kreativitas, dan interaksi sosial masyarakat.

Meskipun proses revitalisasi masih berlangsung, manfaatnya sudah mulai dirasakan. Arena jogging yang telah dapat digunakan menjadi magnet baru bagi warga. Setiap hari, kawasan yang dulunya sepi kini kembali ramai oleh aktivitas masyarakat.

Dari sudut pandang manajemen aset publik, kondisi ini menunjukkan bahwa sebuah aset belum tentu harus menunggu selesai direnovasi secara total untuk memberikan manfaat. Ketika sebagian fasilitas sudah dapat digunakan dan dimanfaatkan masyarakat, maka nilai dari aset tersebut mulai muncul kembali.

Dalam teori Public Value yang diperkenalkan oleh Mark Moore, keberhasilan pemerintah tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan atau besarnya anggaran yang dihabiskan. Yang lebih penting adalah sejauh mana kebijakan dan aset publik mampu menciptakan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

GOR Rawang menjadi contoh sederhana dari konsep tersebut.

Ketika masyarakat memiliki ruang yang aman untuk berolahraga, kesehatan masyarakat meningkat. Ketika pemuda memiliki tempat berkumpul dan beraktivitas secara positif, maka ruang sosial masyarakat ikut tumbuh. Ketika aset yang sebelumnya terbengkalai kembali digunakan, pemerintah telah berhasil menciptakan nilai publik yang nyata.

Namun demikian, pekerjaan rumah masih cukup banyak. Revitalisasi tidak boleh berhenti pada pemanfaatan lapangan dan lintasan lari saja. Tribun penonton yang belum diperbaiki, kolam renang yang masih terbengkalai, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya membutuhkan perhatian serius agar fungsi kawasan dapat berjalan secara maksimal.

Lebih dari itu, tantangan terbesar bukan hanya membangun kembali, melainkan menjaga agar aset tersebut tidak kembali mengalami kemunduran di masa mendatang. Banyak aset publik gagal bukan karena kurangnya pembangunan, tetapi karena lemahnya pemeliharaan dan pengelolaan setelah pembangunan selesai.

Karena itu, keberhasilan GOR Rawang nantinya tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan yang berdiri, melainkan oleh konsistensi pemerintah dalam mengelola dan memelihara aset tersebut agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kebangkitan GOR Rawang memberikan pelajaran penting bahwa aset publik bukan sekadar tanah, bangunan, atau angka dalam laporan inventaris pemerintah. Aset publik adalah sarana untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Ketika masyarakat kembali berlari di lintasan yang dulu terbengkalai, ketika anak-anak kembali bermain di kawasan yang pernah ditinggalkan, dan ketika ruang publik kembali menjadi tempat bertemunya warga, maka di situlah sebuah aset berhasil menciptakan public value.

Dan mungkin, itulah tujuan utama dari manajemen aset publik yang sesungguhnya: memastikan setiap aset yang dimiliki pemerintah tidak hanya ada, tetapi juga hidup dan bermanfaat bagi masyarakat.