PADANG — Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Provinsi Sumatera Barat di bawah kepemimpinan Eri Gusnedi Pangulu Sutan terus memperkuat komitmen dalam melestarikan tradisi dan budaya Minangkabau. Salah satu langkah yang dilakukan melalui Perguruan Binuang Sati, yang mengembangkan pencak silat sekaligus berbagai seni tradisi Minangkabau.
Pembinaan menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai warisan budaya daerah. Perguruan Binuang Sati tidak hanya diarahkan sebagai tempat belajar bela diri, tetapi juga sebagai wadah pembinaan karakter dan pelestarian seni budaya Minangkabau.
Di lingkungan Perguruan Binuang Sati, sejumlah tradisi dan kesenian Minangkabau dikembangkan, antara lain silat tradisi, randai, rabab, saluang, dan talempong. Berbagai kesenian tersebut memiliki nilai sejarah, filosofi, pendidikan, serta menjadi bagian dari identitas masyarakat Minangkabau.
Eri Gusnedi Pangulu Sutan menegaskan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi muda. Menurutnya, budaya akan tetap hidup apabila diwariskan melalui proses pembelajaran dan praktik secara langsung.
“Kita ingin generasi muda tidak hanya mengenal budaya Minangkabau dari cerita atau pertunjukan, tetapi mereka ikut mempelajari dan mempraktikkannya. Karena itu, melalui Perguruan Binuang Sati menjadi salah satu ruang untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya sekaligus membangun karakter generasi muda,” ujar Eri.
Ia menjelaskan, pencak silat tradisi tidak hanya mengajarkan kemampuan bela diri, tetapi juga kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta semangat persaudaraan.
Sementara itu, pengembangan randai, rabab, saluang dan talempong menjadi upaya untuk menjaga ekosistem seni tradisi Minangkabau agar tetap dikenal dan diminati generasi penerus.
Menurut Eri, pelestarian budaya juga sejalan dengan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau yang menempatkan adat dan agama sebagai landasan kehidupan. Karena itu, pembinaan generasi muda harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi keterampilan, tetapi juga akhlak dan karakter.
Budaya sebagai Identitas dan Pendidikan KarakterPimpinan Wilayah Pagar Nusa Sumatera Barat memandang sanggar dan perguruan budaya memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda.
Melalui Perguruan Binuang Sati, anak-anak dan generasi muda diberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pelatih, seniman, dan pelaku budaya. Proses tersebut diharapkan melahirkan generasi yang memiliki kemampuan sekaligus memahami nilai filosofis dari budaya yang mereka pelajari.
“Melestarikan budaya bukan berarti membawa generasi muda kembali ke masa lalu. Justru kita ingin nilai-nilai baik dari masa lalu menjadi bekal bagi mereka menghadapi masa depan,” ungkapnya.
Karena itu, Pagar Nusa Sumatera Barat mendorong adanya kolaborasi antara perguruan silat, sanggar seni, sekolah, masyarakat, pemerintah dan berbagai elemen lainnya dalam memperkuat pembinaan budaya.
Perguruan Binuang Sati diharapkan dapat menjadi salah satu ruang tumbuh bagi generasi muda untuk belajar silat, berkesenian, mengenal adat, membangun persaudaraan dan menumbuhkan rasa bangga sebagai generasi Minangkabau.
Komitmen tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan sebuah kesenian, tetapi tentang menjaga identitas, nilai dan jati diri yang diwariskan oleh para pendahulu kepada generasi masa kini dan masa depan.
“Silat diwariskan, budaya dilestarikan, generasi dibina. Dari Minangkabau untuk Indonesia,” menjadi semangat Pagar Nusa Sumatera Barat dalam mengembangkan Perguruan Binuang Sati. (egn)



