Oleh :
Fellia Rahmadhani Ferinandes
Mahasiswi Program Magister Administrasi Publik, FISIP, Universitas Andalas
Kota Pariaman terus mendorong terobosan dalam membangun perekonomian lokal. Salah satu program yang sedang dikembangkan adalah Satu Keluarga Satu Industri Rumah Tangga (SKSI-RT), sebuah strategi yang memposisikan keluarga sebagai pusat kegiatan ekonomi. Program ini muncul karena kebutuhan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, sekaligus mengatasi berbagai masalah struktural seperti rendahnya produktivitas, terbatasnya peluang kerja, dan ketimpangan penghasilan. Program ini resmi diluncurkan pada 29 Agustus 2025 oleh Walikota Pariaman.
Dengan jumlah penduduk sekitar 96.719 orang pada pertengahan tahun 2023 menurut BPS, Kota Pariaman memiliki potensi perekonomian yang besar. Terlebih, pemerintah kota mencatat adanya sekitar 10.114 usaha mikro kecil menengah (UMKM) pada tahun 2024 meliputi Kecamatan Pariaman tengah sebanyak 3.352, Kecamatan Pariaman Utara sebanyak 2.690, Kecamatan Pariaman Selatan sebanyak 2.138 serta Kecamatan Pariaman Timur sebanyak 1.854 UMKM. Namun, sebagian besar UMKM masih berada di level mikro dengan kendala seperti akses pengolahan modern yang minim dan keterbatasan akses pasar. Di sisi lain, tingkat kemiskinan di Kota Pariaman pada tahun 2024 tercatat naik menjadi 4,26% menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini naik tipis sebesar 0,06% dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 4,20%.
Melalui SKS-IRT, pemerintah mendorong setiap keluarga untuk mengembangkan satu usaha produktif yang bisa dijalankan dari rumah.
Pilihan usaha sangat sesuai dengan potensi lokal, seperti pengolahan hasil perikanan (peyek ikan, rendang lokan), makanan ringan tradisional, kerajinan anyaman atau rajutan, serta layanan jasa rumahan. “Target tahun ini lebih kurang sebanyak 60 pelaku usaha yang akan kita bantu berasal dari warga yang masuk data DTSN/DTKS, karena keterbatasan anggaran”, ucap Wali Kota Pariaman (29/08/2025). UMKM yang menjadi peserta program, akan mendapatkan pelatihan keterampilan usaha, pemerintah juga akan berikan bantuan modal usaha, pendampingan bisnis, program e-commerce/digital marketing, pengadaan peralatan produksi, pameran produk, program ramah lingkungan, legalitas usaha, koperasi/kelompok usaha, dan program insentif pajak.
Dari perspektif teori pembangunan struktural, inisiatif ini sangat tepat. Teori ini menyatakan bahwa pembangunan akan lebih berhasil jika didukung oleh perubahan struktur ekonomi — dari sektor tradisional yang kurang produktif menuju sektor yang lebih modern dan kompetitif. SKS-IRT membantu proses perubahan ini langsung dari level terkecil, yaitu keluarga.
Pertama, program ini mengubah struktur tenaga kerja: banyak ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan kini aktif berusaha.
Data dari pemerintah kota menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha SKS-IRT adalah perempuan, menandakan kemajuan signifikan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga. Kedua, produktivitas meningkat karena adanya pelatihan teknis serta penggunaan alat modern. Ketiga, pendapatan keluarga semakin stabil berkat diversifikasi sumber penghasilan — hal ini sangat penting bagi keluarga nelayan atau buruh harian yang pendapatannya tidak pasti dsb.
Namun, masih ada tantangan yang perlu diatasi.
Sebagian pelaku usaha mengalami kesulitan mendapatkan modal tambahan setelah proses awal pendirian usaha. Literasi digital juga menjadi hambatan bagi pelaku yang lebih tua, terutama warga di atas usia 45 tahun. Selain itu, fasilitas pendukung seperti shared kitchen atau ruang produksi terpadu masih terbatas, sehingga skala usaha sulit diperlebar.
Kendala dana juga dirasakan oleh pemerintah kota.
Meski begitu, Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menyatakan bahwa program SKS-IRT akan dikerjakan secara bertahap dalam lima tahun ke depan. Antara News Sumbar melaporkan bahwa upaya ini mencakup bantuan alat produksi, pelatihan keterampilan, serta pendampingan bisnis yang berkelanjutan. Bahkan, Baznas Kota Pariaman terlibat dengan menyediakan dana awal serta dukungan CSR untuk mendukung mustahik agar bisa memulai usaha rumahan.
Visi pembangunan Kota Pariaman ke depan — sebagaimana tertulis dalam RPJMD 2025–2029 — menekankan penguatan sektor ekonomi kreatif, termasuk industri rumahan berbasis kearifan lokal.
Jika diterapkan secara konsisten, SKS-IRT tidak hanya akan memperkuat ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang angka pertumbuhan, tetapi bagaimana masyarakat merasakan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
SKSI-RT di Kota Pariaman menunjukkan bahwa transformasi ekonomi bisa dimulai dari tempat yang paling dekat: rumah.





