Mahasiswi Program Magister Administrasi Publik, FISIP, Universitas Andalas
Pembangunan di Kota Padang saat ini berkembang dengan pesat. Mall baru diresmikan. Kafe-kafe mulai menjamur di tiap sudut kota, dari yang lucu nan aesthetic yang digandrungi anak muda hingga resto keluarga sebagai tempat melepas penat di akhir minggu, semuanya berlomba-lomba memberikan inovasi tiap waktunya. Hal ini juga di dukung dengan anak muda yang tampil makin ekspresif di sosial medianya sekaligus sebagai promotor pembangunan Kota Padang masa kini.
Kehidupan anak muda saat ini yang berubah drastis bukan lagi menjadi sebuah rahasia. Berdasarkan data BPS Kota Padang (2024), remaja urban di Padang menghabiskan lebih dari enam jam perhari di dunia digital. Mulai dari scrolling Tiktok, reels Instagram, hingga streaming film atau drama terbaru sudah menjadi gaya hidup global yang menjadi rutinitas mereka. Berdasarkan sebuah survey, sebanyak 31,5% remaja di Sumatera Barat pernah mencoba rokok atau vape, lalu 18% remajanya mengaku pernah menggunakan pinjaman online untuk kebutuhan pribadi, kemudian 11% mengaku pernah mencoba judi online, dan 5 – 7% nya terpapar isu LGBT melalui media sosial.
Fenomena ini tentunya membuat para orang tua di Kota Padang resah. Sebab, orang Minangkabau hidup dengan falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” sebagai pedomannya. Maka tak ayal, sikap sopan santun, rasa malu, dan menjaga marwah keluarga menjadi nilai utama kehidupan masyarakat Minangkabau, khususnya Kota Padang. Namun, batas itu kian mengabur seiring perkembangan zaman dan gaya hidup urban. Memang sebagiannya masih berpegang kuat pada adat, sebagiannya lagi, justru merasa bebas dalam mengekspresikan dirinya. Lalu muncul pertanyaan, “Apakah modernisasi menyebabkan anak muda mulai meninggalkan adat?”
Arief Budiman, seorang sosiolog pernah menyinggung hal ini. Dalam bukunya yang berjudul Teori Pembangunan Dunia Ketiga (2000) menyebutkan modernisasi di negara berkembang seringkali menciptakan dualistik kehidupan masyarakat, yaitu hidup di antara nilai lama dan nilai baru. Menurut Budiman, jika modernisasi hanya diukur dari pakaian modern, teknologi, dan gaya hidup saja tanpa diiringi oleh nilai sosial dan moral, maka itu hanya menjadi modernisasi semu. Bisa saja kita mencapai kota cerdas namun kehilangan kebijaksanaan lokal.
Padang hari ini persis menggambarkan hal itu. Anak muda mahir berteknologi, hafal dengan musik dan gerakan velocity terbaru, namun di sisi lain banyak yang bingung dengan adat yang diturunkan oleh leluhurnya. Banyak juga yang bingung menempatkan adat di dalam kehidupan modern. Lalu bagaimana agar keduanya dapat berjalan beriringan?
Pemerintah Kota Padang mencoba menjawab tantangan tersebut dengan meluncurkan program Smart Surau pada Oktober lalu. Program ini menggabungkan nilai-nilai Pendidikan surau tradisional dengan pendekatan digital. Tujuannya ialah agar fungsi surau kembali optimal sebagai pusat pendidikan, pembinaan karakter dan penguatan nilai agama yang terintegrasi dengan teknologi.
Hal ini juga sesuai dengan kehidupan masyarakat Minangkabau dahulu yang menjadikan surau sebagai tempat pendidikan, mulai belajar Al-Quran, budi pekerti hingga belajar silek sebagai bekal pertahanan diri. Dengan adanya smart surau ini, diharapkan teknologi tidak lagi di anggap melawan adat namun justru menjadi alat untuk menyalurkannya.
Modernisasi juga bukan berarti menolak hiburan adat, tetapi bagaimana menjadikannya lebih bermakna. Festival adat di Kota Padang tentu saja tidak punah begitu saja di telan zaman, namun Kota Padang justru memberikan contoh bagaimana adat juga bisa tampil keren tanpa harus kehilangan jati dirinya. Pada akhir tahun 2024 lalu pemerintah mengadakan Festival budaya bertajuk “Semarak Budaya Rang Mudo” sebagai wadah bagi pelajar dan mahasiswa dalam menampilkan tarian, musik minang serta lomba busana adat yang menjadikan adat sangat dekat dengan anak muda. Kemudian di tahun yang sama, Festival Marandang di Lubuk Begalung di adakan sebagai bentuk promosi kuliner sekaligus budaya gotong royong serta rasa kebersamaan masyarakat minang dalam membuat rendang. Baru baru ini juga ada Festival Adat Budaya Pauh IX Kuranji, yang melibatkan niniak mamak, bundo kanduang, dan komunitas pelajar. Terdapat permainan tradisional, musik dan forum diskusi bagaimana adat bisa relevan dengan era digital.
Modernisasi menurut banyak ahli budaya seyogyanya bukan soal meninggalkan masa lalu, akan tetapi bagaimana menyesuaikan diri dengan peradaban zaman tanpa harus kehilangan arah. Falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” meskipun sudah terkesan klasik namun masih relevan. Hanya perlu diterjemahlan ulang dengan baik dalam bahasa zaman. Jika dahulu surau menjadi tempat belajar moral dan silaturahmi, sekarang mungkin waktunya media sosial, ruang kreatif, dan festival budaya mengambil peran itu.
Kuncinya ialah bukan melarang modernisasi ini hadir namun mengarahkan bagaimana modernisasi ini menjadi alat dalam memperkuat identitas Minangkabau. Selagi anak muda masih menilai adat dan agama penting, masih menghargai rasa malu, budi pekerti dan gotong royong, adat Minangkabau tidak akan punah. Ia hanya menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.





