Jakarta – Program moderasi beragama telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Moderasi beragama dianggap sebagai faktor penting untuk memperkuat persatuan dan menjaga perdamaian bangsa Indonesia.

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi menuturkan perwujudan dari moderasi beragama yaitu perilaku menjalankan ajaran agama dengan mengedepankan keadilan dan keseimbangan. Pemahaman ajaran agama secara adil dan berimbang akan membuat individu lebih toleran menyikapi perbedaan di Indonesia yang memiliki keragaman suku maupun budaya.

Moderasi beragama, kata Zainut, dapat dijalankan oleh semua agama. Sebab setiap agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Ia menekankan moderasi beragama bisa diwujudkan apabila seseorang memahami ajaran agamanya secara utuh.

Namun, bukan pemahaman tekstual yang mempersempit makna dari ajaran agama, bukan pula memahami ajaran agama yang keluar dari teks ayat suci sehingga menafsirkan dengan pemikiran yang lebih cenderung materialistis sekuler, liberal, dan mengabaikan prinsip keagamaan (ruh diniyah).

Ciri-cirinya antara lain ialah keyakinan bahwa ayat suci merupakan teks terbuka yang bisa didekati dengan cara dan metode apapun. Ketika pemeluk agama salah menafsirkan sebuah tuntunan, maka ia rentan menyimpang dari ajaran agama dan terjerembab pada pemikiran ekstrem.

“Cara pemahaman keagamaan yang sempit inilah yang dikhawatirkan menimbulkan atau melahirkan cara atau praktek dalam beragama yang menjurus pada ekstrem yang berlebih-lebihan. Inilah pentingnya kita semuanya memahami ajaran agama secara komprehensif secara mendalam tidak sepotong-sepotong,” ungkap Zainut dalam keterangan tertulis, Rabu (9/12/2020).

Zainut mengulas toleransi terhadap kearifan lokal, seperti adat dan budaya daerah merupakan hal yang baik selama masih dalam koridor yang sesuai dengan ajaran agama. Menurutnya, melestarikan adat dan budaya bukanlah sesuatu yang salah selama tidak menyalahi syariat agama yang dianut.

“Nilai kearifan lokal ini juga yang saya kira perlu ditumbuhkan karena nilai-nilai kearifan lokal itulah yang sesungguhnya selama ini tumbuh berkembang di masyarakat kita. Sepanjang nilai-nilai adat istiadat itu tidak bertentangan dengan syariat atau dengan nilai-nilai agama saya kira nilai-nilai kearifan lokal itu harus kita jadikan sebagai perekat persatuan bangsa,” urai Zainut.

Wakil Menteri kelahiran Jepara, Jawa Tengah ini menyebut aparatur sipil negara (ASN) dapat menjadi teladan bagi masyarakat dalam hal moderasi beragama. Menurut Zainut, jika para ASN yang jumlahnya sekitar 4,2 juta orang bisa menjunjung tinggi keadilan dan seimbang dalam mengimplementasikan ajaran agama, maka persatuan dan perdamaian bangsa akan terus terjaga.

“Ketika seluruh ASN memiliki semangat yang sama untuk menempatkan nilai-nilai moderasi beragama insya Allah kita akan menjadi negara yang damai negara yang penuh dengan persaudaraan ukhuwah Ukhuwah wathaniyah. ukhuwah kebangsaan maupun ukhuwah Basyariyah ukhuwah manusia,” papar Zainut.

ASN, kata Zainut, harus menjadi contoh penerapan moderasi beragama dalam menjalankan tugas maupun bermasyarakat. Dengan begitu masyarakat dapat meneladani sikap mereka untuk bersama-sama menjaga keutuhan Bangsa Indonesia yang kaya akan suku bangsa dan adat istiadat.

“ASN dituntut untuk bisa melakukan tugas-tugasnya dalam rangka memperkuat moderasi beragama, karena apa, Indonesia ini kan negara yang plural Indonesia yang majemuk terdiri dari berbagai adat istiadat, budaya, suku bangsa, bahkan juga agama,” ujarnya.

“Tentunya di negara yang plural yang Bhineka itu diperlukan adanya pemahaman keagamaan yang moderat dan moderasi beragama dijadikan sebagai strategi bagaimana memperkuat mempersatukan bangsa Indonesia,” imbuh Zainut