Oleh : H. Hendri Ka.Kanwil kemenag Prov. Sumbar

Pada masa Nabi Muhammad  ﷺ  sebenarnya cara menentukan datangnya bulan baru itu sederhana, yaitu dengan melihat hilal (bulan baru, berbentuk sabit) pada waktu setelah maghrib. Sebagaimana  hadits “Berpuasalah kalian pada saat kalian telah melihatnya (bulan), dan berbukalah kalian juga di saat telah melihatnya (hilal bulan Syawal) Dan apabila tertutup mendung bagi kalian maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” riwayat Bukhari dan Muslim. Karena dalam penaggalan kalender Hijriah perhitungan hari dimulai saat matahari tenggelam (waktu maghrib), maka cukup menanti matahari terbenam di hari ke-29 lalu amati langit apakah telah terlihat hilal atau tidak.
Melihat Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad ﷺ.
Namun, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan “cahaya langit” sekitarnya.
Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging. namun tentunya perlu dilihat lagi bagaimana penerapan kedua ilmu tersebut.
Berdasarkan sumber data Ephemeris Hisab Rukyat Tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, data hilal awal bulan Zulhijjah 1441 H/ 2020 M, ijtima’ selasa, 21 Juli 2020, jam 00:35:47,57 WIB lokasi Kota Padang, matahari terbenan 18:27:36,60 WIB, tinggi hilal 08036’,92”, arah matahari 20019’03.06”, posisi hilal 01025’46.79” sebelah utara matahari, keadaan hilal miring ke Utara, lama hilal di atas ufuk 00034’25.99 Wib, saat hilal terbenam 19002’02.60 Wib
Menjelang Hari Raya Idul Adha 1441 H/ 2020 M, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat melakukan Rukyatul Hilal guna menetukan awal bulan zulhijjah, yang akan dilaksanakan, Selasa (21/7) mendatang di Gedung Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Rukyatul Hilal juga dihadiri oleh tim dari BMKG Padang Panjang dan LAPAN Provinsi Sumatera Barat. Hasil dari Rukyatul Hilal itu akan dilaporkan ke pusat melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, dijadikan bahan sidang isbat untuk menetapkan tanggal 10 Zulhijjah 1441 H/ hari raya Idul Adha 1441 H.
Pelaksanaan Rukyatul Hilal pada tahun ini tetap akan dilaksanakan di Gedung Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 21 Juli 2020 akan datang, karena tempatnya strategis dan berada di tepi pantai Kota Padang, Pengamatan hilal dilakukan dengan menggunakan teleskop dengan bantuan kamera CCD untuk memudahkan pengolahan pengamatan hilal yang sangat tipis.
Pelaksanaan hari raya Idul Adha tahun ini diprediksi akan jatuh bersamaan, karena berdasarkan hisab dan saat pelaksanaan Rukyatul Hilal akan datang, diprediksi tinggi hilal sudah pada posisi 8 derajat,
Namun untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah 1441 H/ 2020 M Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat penentuan awal Zulhijjah pada 21 Juli 2020 mendatang. Melalui sidang isbat inilah akan ditetapkan tepatnya kapan hari raya Idul Adha 2020 atau 1441 Hijriyah.
Adapun, proses sidang isbat biasanya diawali pembahasan hasil hisab dan laporan rukyatul hilal sebelum menentukan 1 Zulhijjah. Sidang melibatkan Tim Falaikiyah Kementerian Agama, perwakilan ormas, dan undangan lainnya sebagaimana penentuan bulan Ramadan dan Syawal. Sidang Isbat wujud kebersamaan Kemenag dengan Ormas Islam dan Instansi terkait dalam menetapkan awal bulan qamariyah, terutama Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Selamat hari Raya Idul Adha 1441 H/ 2020 M.