Oleh: Duski Samad
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Sumatera Barat

Kotak ke 5 dari flowchart Tips Hindari Panik Menghadapi Covid 19 adalah tenangkan diri, cobalah untuk tetap santai dan berpikiran positif. Lakukan jeda dengan cara menarik nafas selama 5-10 menit. Berdoa, berdzikir dan shalat dapat membantu proses menenangkan diri, (Harian Padek, Minggu, 17 Mei 2020,h.1)

Pernyataan dzikir dan ibadah dapat membantu menenangkan diri dari kecemasan Covid 19 yang disampaikan WHO adalah patut ditelisik lebih dalam dan diuji kebenarannya. Umat Islam yang sudah rutin shalatnya dan membiasakan dzikir memiliki pengalaman ruhani, dengan dzikir dan ibadah shalat, berupa kenyaman hati, ketenangan pikiran dan optimisme hidup selesai dilakukan dengan benar, baik dan khusyuk, yang berbeda kualitas dan intensitasnya.

DIZIKIR EFEKTIF
Al-quran kitab suci yang mutlak benar sudah memastikan bahwa dzikir, dan ibadah shalat dapat membantu menenangkan diri, bahkan dapat menjadi sandaran batin menghadapi keadaan yang sulit. “Dan mohon lah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,”(QS. Al-Baqarah 2:45).

Ketenangan batin melalui shalat motif iman dan logis, karena shalat adalah kumpulan dzikir, dan dzikir dengan menyebut dan mengerti nama-nama Allah ada ketenangan jiwa. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’d 13: 28).

Dzikir dan focus yang kuat pada kebenaran absolut wahyu, menjadikan orang dapat relaksasi, tenang dan berfikir positif dalam menghadapi tekanan kecemasan dan kehidupan.”Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 16).

Dzikir efektif membantu menenangkan hati bila diikuti dengan kepatuhan (taat) pada kebenaran. Ada hubungan timbal balik antara ketenangan hati dengan taat. Orang taat ibadah, mamualah, berakhlak mulia diyakini dzikir akan membantu jiwanya yang cemas.
“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.”kecuali orang-orang yang melaksana kan sholat,”(QS. Al-Ma’arij 70:19 22).

STRATEGI MENENANGKAN.
Diri adalah kompleksitas dari perasaan, pikiran, dan renungan yang membentuk persepsi, prediksi, yang menghasilkan kecemasan dan harapan. Dzikir dan ibadah dapat dijadikan sarana untuk menenangkan diri dari ancaman yang tak jelas. Ada beberapa strategi menenangkan diri cara alqur’an.
(1). Kendali Diri.
Emosional, trempramental dan mudah marah (amaratus bissu’) dan bercendrungan negatif itu bahagian watak lahir manusia, (QS. Yusuf/12:52l). Suka mencela dan mengeluh (lawwamah) juga melekat pada setiap orang, (QS. Qiyamah/75:2). Manusia juga suka keluh kesah, halu’a, (QS. Almaarij/70:19-22). Manusia juga mau cepat, ‘ajula, dan sering merasa lemah, dhai’fa, dan suka mencari alasan pembenaran, membantah tanpa logika.”Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur’an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 54)

Penyakit ruhani di atas dapat disembuhkan dengan tekad, niat dan kemauan keras mengubahnya. Mengendalikan diri saat marah dan emosi adalah perbuatan taqwa yang bernilai tinggi, dan orang jenis ini penghuni sorga. “(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

Strategi pengendalian diri memerlukan iklim, situasi, tradisi dan gaya hidup positif. Maka bergaya hidup realistis, dan cerdas dalam memenej diri adalah cara terbaik untuk terkendali. Praktik hidup sufistik dan berakhlakul karimah adalah pembiasaan yang besar artinya menghadirkan diri terkendali.

(2). Aktualisasi Diri.
Cara efektif lain untuk menenangkan diri adalah melakukan kerja positif, tidak sekedar memikirkan dan menyebarkannya, kuncinya aktualkan. Menolong orang baik, tetapi bila tidak dipraktekkan ia tidak memuaskan diri. Jiwa tenang ada dan bisa diwujudkan, tetapi bila tidak diusahakan mendapat kan ya ia tidak akan pernah ada. “Wahai jiwa yang tenang!”(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27).

Tenang jiwa disamping diusahakan juga di doakan, sejatinya pemilik ketenangan hati adalah sang pemilik hidup.
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untukmenambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).(QS. Al-Fath 48: Ayat 4).

(3). Bahagia Bersama Keluarga.
Hati tenang juga dapat dicapai bila orang hidup dalam keluarga qurratuayyunin, membuat hati dan pandangan nyaman dan memiliki kharisma kepemimpin ada ditengah keluarga intinya.
“Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74).

KONKLUSI
Dzikir dapat menghadapi corona jelas ada petunjuk nash. Melakukan dzikir dan shalat yang benar, diikuti ketaatan pada ajaran Islam adalah cara efektif mendapatkan hati yang tenang. Ketenangan hati besar artinya untuk kuatnya imun tubuh, akhirnya dapat terhindar dari Covid 19, selamat beramal dan terus menjadi orang lebih baik dan manfaat. ds. 17052020.