OLEH: DUSKI SAMAD
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Sumatera Barat

Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا كَا نَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَ طَعْنَا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, Kami mendengar, dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. An-Nur 24: 51)

Ayat sami’na wa watha’na ini perlu diingatkan dengan lebih luas dan dimengerti lebih dalam oleh umat dalam menyikapi ijma’ ulama dunia menghadapi covid 19 ini. Mekah dan Madinah ditetapkan tanpa tarawih, MUI se Indonesia menfatwakan, bertaushiyah dan menyampaikan maklumat tidak juga bertarawih, bertadarus, itikaf, tidak idul fitri dilapangan atau menimbulkan kerumunan.

Ramadhan sebagai bulan bina iman, taqwa, silaturahim dan ivent kebersamaan keluarga melalui ibadah di masjid dan buka bersama, saat Covid 19 ini harus diakui akan tidak sama dengan sebelumnya, mengalami hambatan disebabkan larangan berkumpul sebagai pemutus mata rantai virus covid 19.

Dampak lanjutannya adalah heningnya masjid, mushalla dan surau dari taushiyah ustad, tarawih, subuh, pesantren Ramadhan, sungguh suasana yang tidak nyaman bagi umat yang cinta masjid dan ingin dapatkan pahala berganda. Ustad sebagai “bintang” Ramadhan mau tidak mau akan kehilangan kesempatan bertemu jamaah dan terus juga akan mengalami situasi yang tidak ringan.

Ustad kita yang setiap Ramadhan menjadi pihak paling sibuk, tentu akan banyak di rumah saja, karena memang harus di rumah, maka dapat diasumsikan kebutuhan pokok ustad kita mengalami defisit. Khususnya ustad yang kesehariannya berada di tengah masyarakat berdakwah dipasti kan menjadi kesulitan, karena ketiadaan kebutuhan pokok dan kesulitan lainnya.

HARAPAN PADA PENGURUS MASJID DAN MUSHALLA
Keadaan Pandemi Covid 19 ini telah ditangani oleh pemerintah, ditetapkan PSBB bagi Sumatera Barat, berkaitan tidak tidak adanya tarawih di masjid, maka peran pengurus masjid dan mushalla. Ada tiga ikhtiar dan kerja kolektif yang dapat membantu kepentingan bersama ini.

1.Dakwah Sami’na Wa’tana.
Harusnya tidak ada umat keberatan dengan fatwa, maklumat dan taushiyah MUI. Umat yang mukallid (beragama hanya mengikuti saja, terbatas ilmu), fanatik (tanpa tahu dalil), ghuluw (ekstrem) perlu dilakukan dakwah (himbauan) dan takzir (penegakkan hukum) agar mereka dapat mematuhi aturan PSPBB. Sesuai apa yang dikutipkan pada awal tulisan ini, (QS. Nuur/24:51).

Pengurus Masjid dan Mushalla diminta menjelaskan bahwa penghentian ibadah Jumat, jamaah, tarawih dan kerumunan adalah darurat, akibat yang akan terjadi dan dalil syari’i yang mesti mendahulukan keselamatan nyawa dan kemaslahatan umum, (QS. Al Maidah/5: 32).

2.Dakwah Syiar Ramadhan.
Syiar Ramadhan tidak harus berkurang dengan Covid 19, justru lebih baik sebagai wujud kecintaan pada kemuliaan Ramadhan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan pengurus masjid, mulai dari konvensional, manual dan digital.

Pola konvensional pengurus dapat dilakukan dengan meminta ustad mengunjungi jamaah dengan tugas menyampaikan pengajian sekaligus menghimpun infaq, sadaqah, donasi bagi jamaah secara ekonomi terpapar dan zakat.

Pengurus Masjid dan mushala dapat juga menetapkan pola manual. Ceramah ustad di Masjid tanpa jamaah dan diikuti dengan tilawah al quran. Dapat pula dilakukan pola digital dengan mengunakan zoom dan perangkat canggih lainnya.

3.Peduli Ustad kita.
Kinerja yang hendaknya mendapat perhatian dari Pengurus Masjid dan Mushalla adalah memberikan kepedulian pada ustad kita. Bantuan finansial langsung kepada ustad kita yang secara ekonomi tidak memiliki usaha tetap. Bagi kelompok ustad yang secara ekonomi lemah diharapkan lebih diutamakan. Ustad kita yang berpenghasilan tetap dapat diberi atau tidak itu relatif. Namun informasi tentang ditiadakan ceramah di Masjid harus disampaikan pada ustad yang mengisi ceramah.

Pengurus Masjid dan mushalla peduli ustad ini dimaksudkan menguatkan silaturahim dan menunjukkan empati terhadap guru tempat kita menerima pengajian dari mereka. Saat sulit itu diharapkan kita tetap berguru dan yang paling mulia itu adalah memuliakan guru.

Patut ditegaskan syiar dan semarak Ramadhan di tengah Covid 19 ini, harus tetap kuat. Insiatif, kreativitas dan kesungguhan Pengurus Masjid dan mushalla amat sangat menentukan. Dakwah sami’na watha’na, syiar Ramadhan dan peduli ustad kita adalah agenda bersama untuk kemulian Ramadhan. ds. 21. 04. 2020.