Oleh Prof.Dr.H.Salmadanis, M.A

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai Pencinta KAJIAN ISLAM dan JAMAAH MAJLIS TA’LIM di mana saja berada.
Dalam beberapa tulisan kedepan kita akan memaparkan KAJIAN ISLAM terkait bagaimana KESABARAN kita menyikapi wabah COVID-19 yang saat ini sedang melanda kehidupan manusia dari berbagai aspek di dunia termasuk negara kita Indonesia tercinta.

                   S A B A R L A H
  1. HUBUNGAN SABAR DENGAN KEIMANAN

Allah SWT berfirman : 
‘Dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,’ (QS 016 : 127)

Rasulullah Saw., bersabda :  ‘Sabar itu sebagian dari Iman. ’Dan Ali bin Abi Thalib,ra., berkata : ‘Hubungan antara sabar dan iman, laksana kepala dan badan, badan tidak ada artinya tanpa kepala dan sebaliknya.

Syaikh Waasi’ Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata : ‘Sabar melekat pada setiap tahapan maqam ilmu kesufian. Ajaran ini indah sekali, karena berkenaan dengan pokok-pokok tasawuf, makanya tak heran, bila pengajian tentang sabar selalu diulang-ulang dalam perspektif yang berbeda-beda dan dalam tahapan yang belainan pula. Sebagaimana makna daripada sabar itu sendiri, yakni ‘memenjarakan’. Jika yang dimaksud adalah memenjarakan nafsu dari segala syahwat, atau mengekang keinginan-keinginan diri (mujahadah), maka tepat sekali bilamana sabar melekat kepada seluruh tahapan maqam-maqam. Dan pada setiap perubahan peningkatan maqam, akan meningkat pula tingkat kesabaran dan tingkat keimanannya. Sehingga tampak bahwa kesabaran dan keimanan selalu berjalan beriringan, laksana kepala dan badan.

Imam Qusyairi al-Naisaburi,ra., berkata :  ‘Kesabaran yang diwajibkan kepada seorang hamba adalah kesabaran menerima perintah Allah SWT terhadap dirinya dengan penuh ketaatan, sabar atas apa yang dilarang dan diharamkan, dan bersikap tenang menerima qadha dan takdir-Nya.

Syaikh Hasan al-Basri,ra., berkata kepada seorang Badui, bahwa :‘Kesabaranku tak lain kecuali hilangnya kekuatan.

Rasulullah,saw., telah bersabda bahwa : ‘Sabar yang sebenarnya itu adalah pada saat menghadapi cobaan yang pertama.’ Kesabarannya dalam menghadapi kemalangan dan kepasrahannya menyatakan bahwa rasa takutnya adalah kepada Allah semata bukan kepada selain Allah.
Lalu bagaimana dengan Covid-19? Jawabnya adalah sama adanya ketika kita takut kepada ular, jauhi ular itu, kemudian agar ular itu tidal datang ketempat kita bersih tempat itu agar ular tidak mencari makan atau bersarang dirumah kita.

Imam al-Ghazali,ra., pernah mengatakan bahwa Ash-Shabur (Yang Mahasabar) adalah satu sifat Allah SWT, adalah Dia yang tidak tergesa-gesa bertindak sebelum waktunya, namun memutuskan segala persoalan menurut rencana yang pasti, dan mewujudkannya dengan cara-cara yang terlukiskan, tidak menundanya seperti seorang pemalas yang selalu menunda-nunda pekerjaan, tetapi menempatkan setiap sesuatu pada waktu yang tepat, pada saat diperlukan dan sesuai dengan kebutuhannya. Dan semua itu tanpa adanya kuasa yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Oleh sebab itu hakikat kesabaran adalah tidak terbatas, karena Allah SWT tidak terbatas dan karena sifat-sifat-Nya bersatu dengan Dzat-Nya yang Qadim, tanpa pemisahan. Bagi manusia, kesabaran menjadi terbatas karena dzat dan sifat manusia terbatas, maka sabar bagi manusia adalah diperlukannya ketahanan terhadap dorongan yang menyebabkan tergesa-gesa dan bertindak gegabah, baik dalam mengerjakan perintah Allah SWT (ketaatan), menjauhi larangan-Nya (kemaksiatan) atau dalam menerima qadha dan qadar-Nya.

Kebanyakan orang memahami sabar adalah, menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diingini, ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Faktanya, tidaklah demikian.

Rasulullah Saw., bersabda : ‘Sungguh aku lebih khawatir jika kalian mendapatkan fitnah (ujian) yang menyenangkan dibanding ujian yang menyengsarakan.

Abdurrahman bin ‘Awf,ra., berkata : ‘Ketika kami mendapat ujian yang menyulitkan, kami dapat bersabar, tetapi ketika kami mendapat ujian yang menyenangkan, kami tidak kuasa bersabar.

’ Syaikh Abu Sulaiman,ra., berkata : ‘Demi Allah, kita tidak dapat bersabar dengan apa yang kita sukai, jadi bagaimana pula halnya dengan apa yang tidak kita sukai.’ Orang yang keluar dari kesenangan dalam keadaan istiqomah dijalan yang benar, maka derajatnya lebih tinggi daripada orang yang keluar dari kesulitan dalam keadaan istiqomah.

Didalam al-Qur’an banyak dijumpai perintah untuk bersabar, namun bila dicermati perintah sabar itu ditujukan bagi orang biasa dan orang khusus, jika dijumpai dalam firman-Nya perintah : ‘Dan bersabarlah’ maka ini ditujukan untuk semua orang yang beriman sebagai perintah untuk beribadat, dan bisa dikatakan sebagai ‘tafriqah’ atau ‘pemisahan’ karena melibatkan perbuatan-perbuatan manusia, sedangkan firman-Nya yang lain misalnya : ‘Dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,’ (QS 016 : 127) ini ditujukan kepada kelompok orang mukmim sebagai bukti ubudiyahnya dan dapat dikatakan sebagai ‘jam’u atau persatuan, yakni tanpa melibatkan perbuatan manusia melainkan karena karunia-karunia Ilahi semata kepada manusia pilihan.


Wahai sahabat-sahabat dan kaum muslimin, hadapilah kehidupan ini dengan SABAR KARENA ALLAH MENCINTAI ORANG YANG SABAR DAN ALLAH BERSAMANYA

DARI SALMADANIS PUSAT DAKWAH DAN STUDI ISLAM DAN SERTA MAJLIS TA’LIM SUMBAR.
11