Oleh Prof.Dr.H.Salmadanis, M.A

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai Pencinta KAJIAN ISLAM dan JAMAAH MAJLIS TA’LIM di mana saja berada.
Dalam beberapa tulisan kedepan kita akan memaparkan KAJIAN ISLAM terkait bagaimana KESABARAN kita menyikapi wabah COVID-19 yang saat ini sedang melanda kehidupan manusia dari berbagai aspek di dunia termasuk negara kita Indonesia tercinta.

                   S A B A R L A H

Kajian sabar ini akan kita sarikan dari beberapa tulisan untuk menjawab bagaimana pandangan Islam bagi orang yang beriman menghadapi musibah terutama COVID-19 dan dampaknya bagi kehidupan.

  1. PENGERTIAN SABAR

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Sabar adalah upaya menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah, serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, lalu berusaha untuk konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. 

Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khawas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidaksabaran untuk berusaha, ketidaksabaran untuk berjuang dan lain sebagainya. Sabar bukanlah sesuatu yang harus diterima seadanya, bahkan sabar adalah usaha kesungguhan yang juga merupakan sifat Allah yang sangat mulia dan tinggi.
Sabar ialah menahan diri dalam memikul sesuatu penderitaan baik dalam sesuatu perkara yang tidak diingini mahupun dalam kehilangan sesuatu yang disenangi.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa A’isyah menuturkan Rasulullah SAW bersabda, “Sabar (yang sebenarnya) itu adalah pada saat menghadapi cobaan yang pertama.” 

Karena itu sabar terhadap apa yang diperoleh si hambah (melalui amalan-amalanya), misalnya sabar menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah. Dan sabar terhadap apa yang diperoleh tanpa upaya, misalnya kesabaran dalam menjalankan ketentuan Allah yang menimbulkan kesukaran baginya.

Al-Junayd menegaskan, “perjalanan dari dunia ke akhirat adalah mudah bagi orang yang beriman, tetapi menghindari makhluk demi Allah adalah sulit. Dan perjalanan dari diri sendiri menuju Allah SWT adalah sangat sulit, tetapi yang lebih sulit lagi adalah bersabar terhadap Allah.” 

Ketika ditanya tentang sabar, Al-Junaid menjawab, ”sabar adalah meminum kepahitan tanpa wajah cemberut.” Dan Ali bin Abi Thalib ra, menyatakan,”hubungan antara sabar dengan iman seperti hubungan antara kepala dengan badan.”

Al-Jurairi menjelaskan,“sabar tidaklah membedakan keadaan bahagia atau menderita, disertai dengan ketentraman pikiran dalam keduanya. Ketabahan yang sabar adalah mengalami kedamaian ketika menerima cobaan, meskipun dengan adanya kesadaran akan beban penderitaan.”

Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan,”kebenaran hakiki tentang sabar adalah jika si hamba keluar dari cobaan dalam keadaan seperti ketika ia memasukinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ayub as pada Akhir cobaan yang menimpanya, ‘sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah tuhan yang maha penyayang diantara semua yang penyayang’(QS.Al-Anbiya’:83).

Nabi Ayyub memperlihatkan sikap berbicara yang layak dengan ucapanya,’Dan Engkau adalah Tuhan yang maha penyayang diantara semua yang menyayangi’ tetapi dia tidak bicara secara eksplesit , ‘Limpahkanlah kasih sayang-Mu kepadaku’.”


Wahai sahabat-sahabat dan kaum muslimin, hadapilah kehidupan ini dengan SABAR KARENA ALLAH MENCINTAI ORANG YANG SABAR DAN ALLAH BERSAMANYA

DARI SALMADANIS PUSAT DAKWAH DAN STUDI ISLAM DAN SERTA MAJLIS TA’LIM SUMBAR.
10