Oleh Prof.Dr.H.Salmadanis, M.A
(MELALUI PENDEKATAN IMAN)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai Pencinta KAJIAN ISLAM dan JAMAAH MAJLIS TA’LIM di mana saja berada.
Dalam beberapa tulisan kedepan saya akan memaparkan KAJIAN ISLAM terkait bagaimana iman kita menyikapi wabah COVID-19 yang saat ini sedang melanda kehidupan manusia dari berbagai aspek di dunia termasuk negara kita Indonesia tercinta.

BERIMAN KEPADA QADAR DAN QADHA ALLAH SWT

  1. IKHTIYAR DAN TAWAKKAL HUBUNGANNYA DENGAN QADHA DAN KADAR

A. Ikhtiar

Melakukan berbagai macam usaha (ikhtiar) yang halal baik secara zhahir (yaitu langkah-langkah yang ditempuh dengan bekerja) maupun bathin (langkah-langkah yang ditempuh dengan do’a) dengan maksud untuk mengubah nasib atau terhindar dari suatu bencana, merupakan perintah Allah dan Rasulnya. Manusi wajib berikhtiar, artinya manusia wajib untuk berusaha mewujudkan mimpi atau keinginannya sekuat tenaga. Usaha manusia juga menjadi faktor atau penyebab akan hasil yang ditetapkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

ARTINYA “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya”  (Q.S.An-Najm: 39).

Rasulullah bersabda, “berusahalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan berusahalah untuk akheratmu seolah-olah kamu akan mati besok.” (H.R Ibnu Asakir).

Apakah setiap usaha (iktiar) manusia pasti berhasil? Tidak setiap usaha manusia berhasil. Kadang-kadang usaha tersebut mengalami kegagalan. Kegagalan dalam suatu usaha itu antara lain disebabkan karena keterbatasan – keterbatasan dan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam diri manusia sendiri. Setiap muslim atau muslimat apabila gagal dalam suatu usaha hendaknya bersabar. Orang yang bersabar tidak akan gelisah dan berkeluh kesah, apabila berputus asa, sebagaimana firman Allah

Artinya:  “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Q.S. Yusuf, 12 : 87)

Malah ia akan meningkatkan kegiatan usahanya, agar pada usaha selanjutnya tidak mengalami kegagalan.

Ada beberapa cara yang harus ditempuh agar suatu usaha berhasil,  di antaranya :

a. Menguasai bidang usaha yang dilaksanakannya

b. Berusaha dengan sungguh-sungguh

c. Melandasi usahanya dengan niat ikhlas karena Allah

d. Berdoa kepada Allah agar memperoleh pertolongannya.

Allah SWT berfirman sebagai berikut :
                                                            
Artinya : …“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (kecuali) bila mereka sendiri mengubah keadaan….” (Q.S. Ar-Ra’d, 13 : 11)

Dalam surah yang lain, Allah SWT berfirman yang artinya,

Artinya: “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,  dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).  Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).” (Q.S. An-Najam, 53 : 39-42)

B.  Tawakkal

Tawakkal artinya berserah diri kepada Allah setelah berusaha. Setiap orang wajib berusaha untuk mewujudkan keinginan dan kehendaknya. Setelah usaha sebaik mungkin, barulah orang tersebut menyerahkan segala hasil dan keputusan kepada Allah. Usaha yang dilakukan oleh seseorang bukan hanya usaha lahiriah saja, tetapi seseorang wajib memanjatkan do’a kepada Allah, supaya apa yang telah diusahakan dapat dikabulkan oleh Allah.

Kemudian, apakah Islam mengajarkan manusia hanya berdo’a saja?

Tentu tidak, tawakkal yang benar adalah tawakal yang disertai dengan usaha dan do’a.

Islam melarang setiap pemeluknya untuk menganut fatalisme, yaitu paham atau ajaran yang mengharuskan berserah diri pada nasib dan tidak perlu berikhtiar, karena hidup manusia dikuasai dan ditentukan oleh nasib. Fatalisme adalah paham yang keliru, menyimpang dari ajaran tentang iman pada takdir, penghambat kemajuan dan penyebab kemunduran umat. Setiap muslim (muslimat) yang betul-betul beriman kepada takdir, selain wajib untuk berikhtiar, juga wajib bertawakkal kepada Allah SWT. Dalam hal ini Allah SWT berfirman sebagai berikut :                                                                                                            
Artinya : “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.” (Q.S. Ali Imran, 3 : 159).

Selain itu, Allah SWT juga berfirman :
Artinya : “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah di tetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (Q.S. At-Taubah, 9 : 51).

Seorang muslim (muslimat) yang betul-betul bertawakkal pada Allah, tentu akan berusaha agar senantiasa bersikap dan berprilaku sesuai dengan kehendak Allah SWT. yaitu melaksanakan semua perintahnya dan meninggalkan semua apa yang dilarangnya. Muslim/muslimat yang selama hidupnya betul-betul bertawakkal kepada Allah SWT dan beriman kepada Qadha dan Qadar, tentu akan memperoleh banyak hikmah antara lain sebagai berikut :

a. Dicintai oleh Allah SWT. (Seperti dalam Q.S. Ali Imran, 3 : 159)

b. Dianugerahi rezeki yang cukup, Allah SWT berfirman :

Artinya : “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan (keperluannya)….” (Q.S. At-Talaq, 65 : 3).

c. Dianugerahi ketentraman hidup, tidak akan gelisah dan berkeluh kesah, apalagi putus asa. Hal ini disebabkan karena orang yang bertawakkal pada Allah akan bersyukur bila berada dalam situasi yang menyenangkan, dan berusaha sabar apabila dalam kesusahan.

Artinya : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Al-Hadid, 57 : 22-23).

d. Disenangi oleh orang banyak, karena budi pekertinya yang terpuji dan hidupnya yang bermanfaat.


Wahai sahabat2 dan kaum muslimin, Esakanlah ALLAH dengan Beriman kepada QADHA DAN KADAR-NYA.
PAHAMILAH AGAR IMAN KITA TETAP TEGUH DAN UTUH
DARI SALMADANIS PEMBINA STUDI ISLAM DAN MAJLIS TA’LIM SUMBAR.
4