Pasamn,ritvone.com – Attaya duduk dengan manisnya. Ia begitu cantik dengan kipangan kecil di kepala. Sepintas, Attaya tampak seperti Balita pada umumnya. Namun, tatapan bola mata Attaya tidak bisa berbohong. Tatapannya yang layu, melukiskan cobaan teramat berat yang harus ia dan keluarganya jalani.

Attaya baru saja berusia 14 bulan. Di usianya yang masih teramat belia, Attaya harus berjuang keras untuk menjalani hidup. Ia menderita penyakit jantung bocor. Bila sedang bangkit, tubuh Attaya membiru hingga ke kuku jemarinya yang kecil. Ia pun harus mendapatkan infus oksigen, sebagai pertolongan pertama. Akibat sakit ini juga, pertumbuhan fisik dan kepandaian Attaya juga cukup terlambat.

Attaya yang bernama lengkap Attaya Quinza Nurda ini, lahir 26 Oktober 2018 lalu. Di usianya yang belum genap setahun, ia terdeteksi menderita jantung bocor.

“Kejadianya beberapa bulan lalu. Attaya mengalami batuk-batuk hingga kejang dan badannya membiru. Setelah kami larikan ke RSUD Lubuk Sikaping, ternyata Attaya diduga menderita jantung bocor,” kata sang ibu, Nurma Susanti.

Dunia terasa runtuh, ketika Nurma Susanti dan sang suami, Rahmad Firdaus mendengar kabar itu. Tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Apalagi membayangkan dampak jantung bocor ini, bisa membuat penderitanya keterbelakangan mental, tambah tidak tau apa yang mau dilakukan Nurma dam Rahmad.

Awalnya, usai didiagnosa pertama kali, keyakinan Nurma akan sang anak menderita jantung bocor masih ragu. Attaya pun disarankan untuk memeriksa keadaanya ke RSUP M. Djamil Padang.

“Hasilnya sama, Attaya positif mengalami jantung bocor,” lanjut Nurma Susanti.

Takdir sudah terjadi, tidak begitu banyak yang bisa dilakukan Nurma dan Rahmad Firdaus, selain berdoa dan mengupayakan proses pengobatan untuk Attaya. Satu-satunya upaya ialah menjalani operasi ke rumah sakit yang ada di Jakarta, sesuai rujukan tim dokter yang menangani Attaya di RSUP M. Djamil.

“Saat disarankan untuk dioperasi ke Jakarta, kamipun belum manyanggupinya. Sudah sebulan, sejak saran itu dilayangkan,” terang Nurma.

Sebulan sejak saran operasi, kini Attaya masih berdiam di rumah. Menunggu uluran tangan para dermawan, sebab kedua orang tua Attaya dan sanak keluarga sudah kehabisan akal. Barang-barang berharga mereka telah dijual, TV, parabola, HP hingga emas sudah habis. Hasil penjualannya digunakan untuk biaya pulang balik ke Padang mengurus adminitrasi rujukan. Itupun masih teramat kurang.

“Paling berat itu, biaya untuk isi ulang oksigen. Bila sedang kambuh, satu tabung oksigen hanya mampu bertahan untuk Attaya selama tiga jam, habis itu isi ulang lagi dan lagi sampai ia aman untuk sementara waktu. Sekali isi ulang, Rp100 ribu. Kini, ayah Attaya sedang di Padang mengurus adminitrasi rujukan ke Jakarta. Tapi sudah tiga hari, hasilnya nihil. Kami kehabisan akal,” lanjut Nurma sembari menyeka air mata di pipinya.

Kini, Attaya untuk sementara waktu tinggal di rumah sang nenek, di kampung Piliang Tangah, Jorong Padang Sarai, Nagari Aia Manggih Barat, Kecamatan Lubuk Sikaping. Sang ayah yang bekerja sebagai pedagang makanan ringan, telur gulung, sudah dua bulan tidak bekerja. Waktunya habis untuk membawa Attaya berobat kian kemari.

“Attaya anak ketiga kami. Yang paling besar kelas I SMP, kedua kelas II SD. Kami benar-benar habis akal. Kami mohon bantuan,” tukas Nurma.

Bagi para dermawan yang ingin membantu atau menyapa untuk menyemangati Attaya bisa berkunjung ke rumah sang nenek di Kampung Piliang Tangah, atau tidak menghubungi nomor keluarganya 082389502247. Bila ingin membantu biaya berobat Attaya, juga bisa mengirimnya melalui rekening Bank Nagari, 0800.0210.20015-0 atas nama ayah Attaya, Rahmad Firdaus. (Mad)