Oleh:
Duski Samad
Ketua Pimpinan Pusat

Sabtu, 26 Oktober 2019 berlangsung Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) Persatuan Tarbiyah Islamiyah (TARBIYAH -PERTI) ini disejalankan dengan Tasyakuran Ishlah ke 3 Tarbiyah Perti 26 Oktober 2016 di hotel Twin Plaza Jakarta, mestinya Rapimnas ini dilakukan sebelum Pileg 19 April 2019 lalu, namun karena beda pendapat tentang aspirasi politik dalam pemilihan umum dan menjaga keutuhan ishlah, Rapimnas kita tunda hari ini. (KetumBasriBermanda).

Wakil Ketua Pembina Zulkifli Hasan, yang juga Wakil Ketua MPR dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa pilpres sudah usai maka jangan baper, bawa perasaan, mari dijadikan saja bahan ajar semua realitas politiknya. Emosi yang muncul pasca pilpres semuanya tidak ada gunanya dilanjutkan. Saatnya ormas berbenah diri dengan menyelesaikan dua tantangan berat umat yaitu kemiskinan dan pendidikan. Miskin dan bodoh menjadi sumber umat tetap tertinggal dan menjadi mangsa bagi pihak lain.

Patut diingatkan kepada semua pihak bahwa pimpinan ormas dan semua orang yang diikuti harus mewaspadai kelompok dan pihak-pihak yang ormas sudah dijadikannya agama, harusnya Islam yang dijadikan agama. Artinya pimpinan ormas dan tokoh diminta menjadi peredam berbagai ekses politik yang berakibat tidak baik.

Politik is games, politik itu permainan begitu kata orang politik, namun moral politik tidak boleh merusak tatanan keadaban dan kepantasan. Kearifan mereka yang memegang pejabat politik mesti harus ditegakkan. Hari-hari ini, menyimak pernyataan pejabat ada menyakitkan, misalnya kita akan bersihkan ustad, bersihkan radikal yang dikonotatifkan pada agama Islam. Pernyataan seperti ini memanaskan temperatur politik, yang tentunya berakibat tidak produktif dan kondusif.

Sisi lain yang juga menjadi perhatian bagi tokoh umat, lebih-lebih lagi pejabat negara diminta harus paham apa makna kehidupan majemuknya Indonesia. Kemajemukan itu menghargai keberbedaan dalam batas yang semestinya. Misalnya toleransi, toleransi bukan basa basi, dengan menyebut semua salam, untuk semua agama. Toleransi adalah menghargai dan menghormati orang dengan keragamannya.

Ishlahnya Tarbiyah Perti tentu diharapkan dapat menjaga nilai kemuliaan ishlah pada semua level organisasi dan jamaah.
Tarbiyah Perti sebaiknya untuk waktu tertentu ke depan, janganlah pikirkan Partai. Partai itu tidak bisa dijadikan rujukan, tetapi voters, pemilik suara, yang menentukan artinya ormas memberikan pendidikan politik pada. Mrmbangun terus kesadaran ekonomi, intelektual dan demokrasi adalah tugas ormas yang lebih kuat. Ormas bisa merujuk pada pandangan bahwa hubungan Islam, Nasionalis dan Politik adalah laksana garam bukan gincu, kata Buya Hamka. Pancasila disepakati sebagai kesepakatan (kalimatussawa’).

Tokoh umat prihatin terhadap prilaku di antara tokoh yang menjadikan Islam sebagai JAKET BULU DOMBA, bulu diluarnya menghangatkan badan, akan tetapi bila jaket itu dibalik baju itu akan berbahaya.
Sejarah menunjukkan bahwa kesadaran berbangsa itu dimulai oleh ormas Islam dimulai dengan ormas Jamiatul Khairat, Serikat Islam, Muhammadiyah, NU, PERTI itu semua adalah bapak dan ibu kandung negara yang baru lahir 17 Agustus 1945. Tokoh dan pemimpin diharapkan dapat mengembangkan tradisi berrfikir positif akan mengurangi pikiran negatif. Mencari kesalahan justrunya yang ditemukan salahnya, bukan kebenaran.

SUARA DAERAH
Mendengar laporan Ketua Wilayah Tarbiyah Perti Propinsi se Indonesia Pimpinan ada beberapa pokok pikiran yang mengemuka, antara lain:

  1. Secara organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah Perti) setelah Ishlah 27 Oktober 2016 belum maksimal melaku kan konsolidasi organisasi pada level Kabupaten Kota pada setiap Propinsi di Indonesia.
  2. Konsolidasi dan Sosialisasi Ishlah Tarbiyah Perti secara struktural dan kultural organisasi perlu terus menerus diberikan proses edukasi terhadap tokoh, ulama, pengurus dan jamaah sehingga ishlah dapat diterima serta menjadi budaya kolektif.
  3. Pimpinan berpendapat agar gerakan, suasana, gaya dan style pimpinan, serta semua komponen mengembalikan Tarbiyah Perti ke jati diri sebagai ormas sesuai khittah perjuangan Pendidikan, Dakwah dan sosial.
  4. Pimpinan, ulama, jamaah dan umat Tarbiyah Perti diminta memberikan dukungan terhadap kader Tarbiyah Perti yang maju dalam pemilihan kepala daerah Gubernur, Bupati dan walikota.
    Pikiran di atas selanjutnya dirangkum dalam rekomendasi dan bersamaan itu Rapimpinas mengeluarkan fatwa tentang kepemimpinan nasional. Twinplaza@ 26-27102019.511.ds.sm