Oleh:
Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol

Disampaikan Pembinaan Ponpes dan Halakah Surau di Kabupaten Padang Pariaman

Pondok Pesantren aslinya dari nama tempat mengaji di pulau Jawa. Kata Pesantren di Minang mulai di kenal saat pemerintah orde baru c.q Departemen Agama RI menerapkan politik pendidikan agama dengan dukungan dana pembangunan. Kebijakan bantuan pendidikan agama dengan nomeklatur Pondok Pesantren, langsung atau tidak menjadi pemicu peralihan surau, perguruan dan madrasah menjadi Pondok Pesantren.

Sejarah pendidikan Islam di Minang sejak abad 17 masehi berupa surau, perguruan dan madrasah, memiliki akar ideologi dengan pemahaman keagamaan. Kini, institusi yang tiga ini bertransformasi menambahkn kata Pondok Pesantren pada nama awal lembaganya, karena alasan pragmatis dana dan tuntutan penyeragaman pendidikan pemerintah.

Surau sebagai lembaga pendidikan dipakai oleh kaum tradisional lama berupa pengajian duduk bersila (halakah) mengajarkan kitab berbahasa arab mazhab Syafi’dan Syafiiyah, malam harinya mangaji tarekat dan wirid. Exp. Surau di Pariaman dan sepahamnya.

Perguruan digunakan oleh kaum modernis belajar agama pola sekolah  pelajaran kitab yg ditulis ulama modernis dan pelajaran ilmu umum, exp. Perguruan Thawalib, Diniyah, dll.

Madrasah aslinya dipakai oleh ulama tradisional baru, mengaji kitab ahlusunnah dan syafii cara sekolah dilengkapi pelajaran umum, awalnya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), sebelum kemerdekaan sudah menyebar di Sumatra Tengah.

Hebatnya, perubahan tetap saja mengokokohkan ideologi dan paham keagamaan masing-masing. Prakteknya Surau penjaga tradisi kitab kuningnya. Perguruan memperkuat tradisi dan mengakomodasi modernisasi. Madrasah menjadi pintu terdepam dalam modernisasi.

MENEGUHKAN JATI DIRI
Membentuk ulama yakhsallah, ( QS.35:28) dan hukama’ ulul albab, (QS.2:269). Serta mewujudkan ulama dan intelektual tafaqquhfiddin, (QS.9:122) dan ilmuwan bermartabat, (QS.58:11).

BERGERAK KREATIF DAN INOVATIF
Inovasi kelembagaan surau, perguruan dan madrasah menjadi Pondok Pesantren berkembang pada semua sisi sejak filosofi, tujuan, kurikulum, sampai semua instrumen pendidikan yang dibutuhkan untuk tetap survive di era industri, 4.0 yg menghadirkan kondisi sosial distrupsi.
Meneguhkan visi keulamaan yang diemban Ponpes adalah fardhu’ain. Inovasi hanya pilihan untuk memberi kesempatan bagi santri menjadi kuat.
Ponpes diminta teguh pada niat awal dan tidak mudah tergoda oleh inovasi yang menciderai tujuan, khittah dan nama yang disandang. Inovasi yang abaikan visi, misi dan perjuangan Islam jelas membawa mudarat besar. Ponpes mesti garda terdepan menjaga Islam dan bangsa.

Merawat istiqamah ponpes inovasi sebaiknya tidak keluar dari 3 kekhasan output (alumni) ponpes ant:

  1. Calon Ulama Nagari, pembimbing umat di Nagari dengan dukungan keterampilan hidup (life skill).
  2. Calon Ulama, dan Intelektual yang akan melanjutkan perguruan tinggi agama dan umum.
  3. Ulama tafaqquh fiddin, disiapkan menjadi ulama mumpuni dan berkepribadi kuat sbg pewaris Nabi.

STRATEGI

  1. Kelembagaan berbadan hukum dengan mensinergi kharisma Buya, Alumni dan masyarakat
  2. Manajemen ponpes, madrasah berbasis pengasuhan, surau cyber.
  3. Pemimpin, Tuanku, guru, ustad, santri menumbuhkan iklim ponpes siak, intelektual dan mandiri.
  4. Pembelajaran di kelas, dan pondok (asrama) terencana dan menyatu.
  5. Kurikulum pondok, madrasah dan life skill terintegrasi dan terpadu.
  6. Mata ajar wajib agama dan mata ajar berbasis minat santri.
  7. Sarana pendukung memadai.

TANTANGAN
Kuatnya perubahan pandangan hidup, materialistic orented, ponpes perlu terbuka, dan mandiri  menseimbang kan antara benafit dan profit. Kapitalisasi  skill keagamaan dan  layanan sosial dapat saja di proyeksi kan dgn tetap mempertahankan nilai, norma dan local wisdom.

PELUANG
Kegelisahan batin dan disorentasi hidup sbg effec gaya hidup modern butuh konselor dan sosok kharismatik yang meneduhkan. Ulama, faqih, cendikia berpengalaman ponpes berpeluang besar untuk itu.

PENUTUP
Semoga Ponpes di Padang Pariaman istiqamah pada jati diri, teguh  merawat tradisi, dan cerdas dalam berinovasi. 08102018. DS.