Ritvone.com, Padang — Di mana-mana belakangan ini diskusi dan perdebatan terjadi, di dunia nyata sampai alam maya, media sosial seperti Facebook dan grup-grup WathsApp dengan topik Pilpres 2019, dan banyak anggota grup keluar karena anggota grup saban hari berdebat melulu, dan ada lagi yang melihat perdebatan tersebut sebagai hiburan sambil menambah wawasan terkait perbedaan pendapat yang terjadi.

Saat wartawan ritvone bertemu Eri Gusnedi, M.A sekretaris umum DPP Perserikatan Alumni Madrasah Tarbiyah dan Pondok Pesantren atau dikenal dengan HAMTIPP, mewawancara terkait hangatnya diskusi dikalangan masyarakat, dan tidak terkecuali juga terjadi ditingkat santri, “diskusi itu hal positif, asal dengan kepala dingin dan tidak menyebabkan permusuhan, atau menyebabkan menjadi jarak dengan lawan debatnya” tutur Eri G, Rabu (27/02/19) di Ruangan Kerja Lubuk Minturun Kota Padang.

Lebih lanjut Eri Gusnedi menjelas berdasarkan pengalaman selama mondok, “kami di pondok dibudayakan diskusi dan debat, sekali seminggu atau sekali sebulan dilaksana debat dengan tema yang sudah ditentukan, yang termasuh dalam kelompok debat terdiri dari santri kelas 3 sampai kelas 7, sedangkan kelas 1 dan 2 serta guru mengamati jalanya diskusi” tambahnya.

“Diskusi berlansung dengan hangat dan seru, saling mematahkan pendapat lawan, dengan berbagai argumen yang disertai banyak referensi, mulai pelajaran terendah sampai yang tinggi, kelas 1, 2, 3 dan 4 akan mulai bingung apabila peserta diskusi sudah mulai berdebat dengan pisau pembedah masalah ilmu mantik, balaghah serta usul fiqihpun, sehingga tidak jarang mereka tertidur atau keluar dari ruangan sekedar cari angin sebagai obat ngantuk” kenang Eri.

“yang saya salut, usai acara perdebatan, keluar dari ruang, peserta debat kembali membaur yang tadinya saling mematahkan dan mencari kelemahan lawan, tidak jarang suara lantang mata melotot, eee…setelah di luar mereka kelakar dan ketawa-ketawa lagi keakraban pun tetap terjali, tidak nampak raut wajah permusuhan, malahan makan bersama dan tidur diruangan yang sama penuh rasa kekeluargaan” jelas Eri sambil mengenang memori lama tahun 90-an di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin Lasi Tuo.

“jadi jangan heran ketika melihat alumni pesantren duduk semeja makan bersama setelah debat, bertegang urat leher, karena bagi mereka perdebatan itu biasa dan makanan yang harus dinikmati, dan tidak akan menyebabkan persaudaraan mereka rusak, kalau pun ada satu dan dua setelah berdebat, lalu bermusuhan, ini hanya kasus saja” pungkas Eri yang juga aktif di organisasi media online seperti di Aliansi Jurnalistik Online Indonesia dan Forum Eksekutif Media (FEM) Sumatera Barat.

Lg