Ritvone.com, Sumbar – Perjalanan IMTI Jabodetabek kali ini diteruskan ke pesantren salah satu maha guru Persatuan Tarbiyah Islamiyah yaitu pesantren Iyiak Jaho, kami sampai di Jaho di sore hari, disambut suasana negeri Jaho yang asri dan udara yang sejuk ditambah kedamaian lantunan bacaan surat Al-Waqiah yang menjadi salah satu wirid ba’da ashar santri MTI Jaho yang dalam kesempatan sore itu lansung dipimpin oleh Buya Asmuji pimpinan MTI Jaho, Minggu (03/0219).

Bergegas kami berwudhu’ dan menunaikan shalat ashar lalu menghampiri dan menyalami Buya yang sengaja menunggu kami di sajadah beliau, setelah itu kami langsung dibawa ke aula asrama, disana pun kami juga telah ditunggu oleh santri yang siap mendengarkan pemaparan kakak IMTI mengenai informasi perkuliahan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Agenda sosialisasi berlangsung dengan lancar dan penuh antusias dari santri, kakak-kakak IMTI menyemangati mereka agar optimis untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi khususnya bergabung bersama-sama di UIN Jakarta dan bersama-sama membangun IMTI Jabodetabek ke depannya.

Sambutan ramah nan hangat Buya Asmuji dan santri MTI Jaho membuat kami haru dan bahagia, Buya langsung yang menyambut kedatangan kami, beliau antar dan temani kami selama agenda sosialisasi berlansung. “Saya sangat senang dan bersyukur mahasiswa Tarbiyah Islamiyah telah mulai bersatu kembali dan telah memiliki wadah untuk menyalurkan aspirasi, dan mengembangkan potensi diri, dengan persatuanlah orang tua kita mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, dengan persatuan mereka membentengi ranah Minang dari pemahaman keagamaan yang melenceng dan sudah seharusnya dengan persatuan pula kita melanjutkan perjuangan mereka” ujar buya Asmuji ketika memberikan arahan kepada kami, besar harapan IMTI bisa mewujudkan persatuan itu dan mampu mengembangkan potensi di tingkat mahasiswa agar kedepan Persatuan Tarbiyah Islamiyah mampu kembali mengembangkan sayapnya melalui segala bidang.

========

Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Jaho merupakan salah satu Madrasah pertama Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang terletak di Bukit Tambangan, daerah perbatasan Tanah Datar dan Padang Panjang. MTI Ini didirikan oleh Maulana Syekh Muhammad Jamil Jaho yang akrab dengan sebutan Inyiak Jaho, Buya Jaho atau Angku Jaho, lahir pada tahun 1875 dari pasangan Datuak Garang dan Ummi Umbuik. Terlahir dan dibesarkan dari keluarga yang taat beragama dan cinta ilmu pengetahuan membuat Syekh Jamil Jaho haus akan ilmu agama.

Muhammad Jamil memulai perjalanan intelektual dibawah asuhan ayahnya sendiri, di usia 13 tahun beliau telah hafal Al-Qur’an dan sudah menguasai kitab “parukunan” yang ditulis dengan Arab Melayu. Melihat kecerdasan Muhammad Jamil, sang ayah berinisiatif mengajarkan kitab kuning kepada sang anak, tak membutuhkan waktu lama Muhammad Jamil telah menguasai ilmu Bahasa Arab dengan baik lisan dan tulisan.

Dengan penguasaan bahasa Arab yang cukup Muhammad Jamil melanjutkan berguru kepada Syekh Al Jufri Gunung Raja, sebagai santri yang tekun dan memiliki penguasaan yang baik beliau menjadi murid kesayangan sang guru, menamatkan pendidikan disini pada 1893 beliau melanjutkan belajar kepada Syekh Al Ayyubi Padang Gantiang yang terkenal dengan kefaqihannya, disinilah beliau bertemu dan berteman akrab dengan Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang), bersama-sama menimba ilmu dengan tekun selama 6 tahun disini kemudian kembali bersama melanjutkan belajar ke Biaro Kota Tuo yang merupakan tempat perkumpulan ulama besar Minangkanau kala itu.

Pada tahun 1899 keduanya melanjutkan rihlah ilmiyah ke Halaban dibawah asuhan Syekh Abdullah Halaban pakar fiqh dan Ushul Fiqh. Mendauh keilmuan bersama lautan ilmu ini membuat keduanya tumbuh menjadi sosok yang dikagumi keilmuannya, disini keduanya mulai mengajar dan tidak jarang menemani sang guru berdakwah di ranah Minangkabau.

Tahun 1908 Muhammad Jamil Jaho berkesempatan menunaikan ibadah Haji sekaligus menetap di tanah suci selama 10 tahun untuk memperdalam keilmuan, di Mekkah beliau belajar kepada Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi (mufti Madzhab Syafi’i), Syekh Alwi Al Maliki (pakar madzhab Maliki) dan Syekh Mukhtar Al Affani (guru besar madzhab Hanbali) dan memperoleh ijazah dari ketiga ulama besar ini.

Kembali dari tanah suci Maulana Syekh Jamil Jaho menjadi ulama yang disegani karena kedalaman pengetahuan dan keshalehan pribadinya, beliau mulai mengajar dan mengembangkan sayap dakwahnya di ranah Minangkabau sehingga beliau menjadi salah satu ulama besar ranah Minangkabau dan Nusantara.

Selain berdakwah dengan lisan Syekh Jamil Jaho juga sangat produktif menulis, diantara karya yang lahir dari tangan beliau adalah kitab tazkiraratul qulub fi muraqabati allamil ghuyub, Nujumul hidayah fi raddi ala ahlil ghawayah, as-syammsul lamiah fil aqidah wa diyanah, hujjatul balighah, al maqalah ar radhiyah, kasyful awsiyah dan lain-lain.

Bersama Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Abbas Qhadi Ladang Laweh dan Maulana Syekh Abdul Wahid As Shalihi Tabek Gadang beliau mendirikan organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang bergerak dibidang pendidikan, dakwah dan social masyarakat. Organisasi ini memiliki andil besar dalam sejarah perkembangan Islam di ranah Minang secara khusus dan Indonesia secara umum sampai hari ini meskipun akhir-akhir ini nama Persatuan Tarbiyah Islamiyah tidak begitu eksis dipanggung nasional sebagaimana dimasa awal berdiri dan berkembangnya di tangan pendirinya.

Syekh Jamil Jaho tutup usia pada 1941 M/ 1360 H mewariskan keilmuan, suluh dan suri tauladan umat dan terkhusus warga Tarbiyah Islamiah melanjutkan perjuangan mewujudkan khittah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (pendidikan, dakwah dan social masyarakat).

lahul Fatihah…

*Pegiat IMTI Jabodetabek