Ritvone.com, Payakumbuh – Dikarenakan bentroknya jadwal sosialisasi IMTI pada hari Sabtu ke berbagai MTI sekitar Kamang (YATI Kamang, Tarusan dan Kapau) dan Payakumbuh (MTI Koto Panjang dan Tabek Gadang) maka terpaksa panitia harus dibagi jadi dua tim, satu tim ke Kamang dan sisanya ke Payakumbuh, Sabtu (02/02/19).

Pada kolom kali ini saya akan bercerita seputar sosialisai IMTI Jabodetabek di MTI Koto Panjang, Lampasi, Payakumbuh. Setiba di pesantren kami pun disambut hangat oleh Buya Wazirudin Tunikam selaku pimpinan pondok pesantren (menantu dari pendiri, Syekh H. Mukhtar Angku Lakuang) dan Ust. Malin Bungsu Alkotopanjani selaku Kepala Sekolah. Pertemuan itu kami manfaatkan dengan menggali segala informasi tentang pendiri MTI, bagaimana proses berdiri MTI hingga tantangan yang dihadapai ponpes saat ini.

Sosialisasi berlangsung di Aula MTI Koto Panjang (diikuti oleh pimpinan pondok, kepala sekolah, majelis guru dan seluruh santri/anak siak dari tingkat awal sampai akhir) diawali dengan penyampaian sambutan oleh Buya Pimpinan dan Kepala Sekolah. Para ustadz/ustazah dan santri mengikuti sosialisasi dengan sangat antusias sampai selesai. Mahasiswa IMTI sengaja mensosialisasilan hanya seputar IMTI dan ketarbiyahan disebabkan masih kurangnya pengamalan dan penghayatan terhadap nilai-nilai ketarbiyahan oleh anak siak sendiri.

Disamping terjadinya penurunan dari segi jumlah santri, pihak yayasan terus berupaya melakukan pembenahan dan perobahan ke arah yang lebih baik dan berusaha menjemput sinar MTI dulu yang pernah jaya sampai ke Malaysia. Upaya tersebut dibuktikan dengan menerapkan pelajaran kitab tambahan pada malamnya (seperti tauhid, tafsir, balaghah, al Quran, hadis, tarekh, fiqh, ushul fiqh dan lainnya) serta memadatkan dengan materi dakwah dan bahasa Arab & Inggris dengan guru yang yang sudah terjadwal.

Yayasan Tarbiyah Muchtar Engku Lakuang juga menerapkan ekstrakulikuler ROBOTIK, yang dipandu oleh ust. Noviardi seorang dosen di Sekolah Tinggi Tekhnologi Payakumbuh (STTP) yang tentunya sangat mahir berbahasa inggris dan dalam penggunaan IT. Penerapan ekstrakulikuler ROBOTIK ini termotivasi oleh almarhum Syekh Mukhtar Engku Lakuang yang dulunya juga ahli dalam bidang kelistrikan, beliau mampu menciptakan mikrohidro untuk Koto Panjang. Walau bertiang kapuk, listrik yang beliau ciptakan pada masa itu, mampu menerangi kampung tersebut. Bukti fisiknya masih dapat dilihat di Sungai Tabia. Dari sini bisa kita pahami bahwa ulama ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah juga mampu mengkombinasikan antara tekhnologi dan kitab kuning.

Pondok pesantren MTI Koto Panjang, Lampasi, Payakumbuh didirikan pada tanggal 3 Maret 1935 oleh ulama besar Minangkabau bernama Syekh H. Muchtar Engku Lakuang (1913-1978). Syekh Muchtar merupakan sosok ulama yang sangat faqih dalam fiqh Syafi’iyyah, tawadhu’ dan istiqomah. Beliau belajar langsung kepada ulama besar Minangkabau yang juga pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah yaitu Syekh Abdul Wahid Ashsholihi Tabek Gadang (w. 1950). Tak hanya alim di bidang fiqh Syafi’iyyah beliau juga dikenal sebagai seorang “shufi” penganut Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah (diberi ijazah langsung oleh Syekh Abdul Wahid Alkhalidi Ampang Gadang) sekaligus mendirikan surau suluk di daerahnya.

Sebagai seorang ulama yang faqih dan rajin menulis tentunya beliau punya banyak karya apakah itu di bidang fiqh, tasawwuf bahkan hadis dan lain lain (kabarnya di bidang hadis dan ilmu hadis beliau juga pernah menulis kitab seputar ilmu “dirasatul asanid”, namun saya belum sempat melihat teksnya secara langsung). Salah satu karya beliau yang terkenal adalah “Al-Istidlal” merupakan hasil diskusi pada forum mudzakarah Isdtidlal yang beliau dirikan sendiri. Karena kealimannya itu ia juga pernah diamanahi sebagai ketua Mahkamah Syar’iyyah Payakumbuh (saya lupa tahun berapanya, kira-kira pada masa gejolak PRRI di Minangkabau).

Puluhan tahun MTI Koto Panjang telah banyak mencetak ulama dan tokoh-tokoh bangsa. Salah satu dari sekian alumni MTI Koto Panjang adalah Prof. Dr. Nasaruddin Baidan yang kemudian fokus di bidang Ilmu Al Quran dan Tafsir (setahu saya sudah sekitar 30 karya di bidang ilmu al-Quran dan Tafsir yang dihasilkannya), dan tentunya masih banyak alumni lainnya yang turut berkontribusi aktif bagi pendidikan keislaman, kebangsaan dan sebagainya.

Sekian dulu cerita saya seputar sosialisasi IMTI Jabodetabek dan MTI Koto Panjang, Lampasi, Payakumbuh, Sumatera Barat. ya, mudah-mudahan bermanfaat. Akhirnya sebelum pulang tak lupa kami sediakan waktu khusus untuk berziarah ke makam Syekh H. Mukhtar Engku Lakuang dengan harapan semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kami melalui berkahnya para ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Lahu wa lahum al-Faatihah. Aamiin.

Penulis : Muhammad Hidayatullah, Lc (Ketua Umum IMTI Jabodetabek