Oleh: Duski Samad
Ketua Pimpinan Pusat
Tarbiyah Perti

Kami kehilangan jejak pengurus Persatuan Tarbiyah Islamiyah disingkat Tarbiyah juga yang disingkat Perti sebelum ishlah begitu lontaran kata yang mengemuka dalam laporan daerah pada Rakernas Tarbiyah Perti 27-29 Juli 2018 di Swiss Belhotel Lampung Selatan.

Madrasah, Pondok Pesantren dan Sekolah yang berafiliasi dalam paham dan pemikiran keagamaan dengan Tarbiyah Perti cukup banyak, hanya pendataan dan potensi belum dapat disebutkan jumlahnya, karena selama ini pembinaan pendidikan jalan sendiri tanpa ada bimbingan yang berarti dari ormas Tarbiyah begitu pula halnya  di Perti.

Halakah ulama, surau suluk, Dayah, Masjid dan tempat ibadah jamaah Tarbiyah dan Perti tetap kokoh dan kukuh dibimbing oleh Syekh, Abuya, Tuan Guru, Kiyai hanya saja mereka berkoneksi dengan pimpinan dan aktivis organisasi saat ada Munas, Muktamar, Rakernas dan atau saat akan ada pemilihan kepala daerah, pileg dan pilpres. Mobilisasi dan pembinaan jamaah masih ada hanya saat-saat diperlukan untuk kepentingan politik praktis dan atau kegiatan seremonial.

Realitas masih eksisnya jamaah dapat dibuktikan banyak daerah yang berhasil mengantar kadernya untuk menduduki kursi kepala daerah, anggota legislatif dan Dewan Perwakilan Daerah. Daerah basis sejarah tempat lahir dan berkembang pada masa awalnya Tarbiyah Perti Sumatera Barat dan Aceh dari paham keagamaan masih kuat, sedangkan keorganisa sian beda tipis dengan daerah lain.

Kaum terdidik, guru besar, doktor, pakar, cendikiawan, sarjana, birokrat, pengusaha, politisi dan tokoh Tarbiyah Perti tidak kalah jumlah, kualitas dan kapasitas mereka dengan ormas lain,  sayangnya potensi dan asset ini belum cukup berarti  didayaguna kan oleh pimpinan Tarbiyah Perti pada semua tingkat. Berbagai alasan, dalam  kasus tertentu ada pimpinan yang merasa kurang nyaman dengan banyaknya orang tetdidik kritis di organisasi dan ada pula mereka yang hebat itu tidak berani mengemukakan jati diri sebagai kader Tarbiyah Perti.

Miris pula mendengarnya bahwa ormas Tarbiyah dan Perti di beberapa daerah belum cukup tersosialisasi di Pemerintah Daerah, pada MUI dan ada yang masih dimengeti keliru oleh pejabat  dengan menyebut Tarbiyah sebagai Fakultas Pendidikan. Ada pula pengurus Tarbiyah Perti tidak dilibatkan dalam kepengurusan MUI. Padahal Perti itu adalah salah satu pendiri Majelis Ulama Indonesia.

Tidak perlu malu mengatakan bahwa krisis identitas dan jati diri yang mengidap banyak kader dan jamaah Tarbiyah Perti perlu diterapi dengan menegaskan komitmen dan Istiqamah dalam mengamalkan khittah paham keagamaan Ahlusunal wal jamaah dalam aqidah, mazhab Syafi’ dalam fatwa dan ibadah serta  tasawuf sunni dalam berihsan. Cendikiawn Tarbiyah Perti dituntut untuk merumuskan gagasan besar mengakomodir jaman now dan revolusi 4.0 dengan tetap meneguhkan tradisi lama yang relevan untuk masa depan.

Kepribadiaan ramah, damai, akomodatif dan menghargai kearifan lokal yg dkprajtekkan jamaah Tarbiyah Perti  didorong untuk dijadikan pegangan, diterapkan dalam sikap, prilaku, paham dan pola pikir keagamaan yang sesuai dengan  nash qathi’ dan pemahaman ulama masa lalu (salafus saleh), menjaga kearifan lokal ( al’adah), moderasi, santun dan saling menghormati (tawasuth, tasamuh dan muasarah bil ma’ruf) dengan pemerintah yg sah  kompinen bangsa lainnya.

Patut juga diperhatikan prilaku dan pola pikir di antata aktivis dan  jamaah Tarbiyah Perti agar meningkatkan komitmen,  istiqamah, dan loyal  dalam merealisasikan dan mendesakkan kehidupan musyawarah dan demokrasi yang benar, adil dan bertanggung jawab serta menolak prilaku memaksakan kehendak, mengugat lagi hasil keputusan dan atau pemilihan langsung.

Akhirnya PP Tarbiyah Perti diminta memantapkan visi, misi, semangat dan kapasitas organisasi dengan  menbentuk tim taks force untuk penulisan bibliografi dan profil utuh kelembagaan, Madrasah, Sekolah, Pesantren, Surau, Dayah, halakah, dan potensi jamaah Tarbiyah Perti dijadikan baseline  untuk take off di masa depan. Soetta, Minggu (29/07/18).