Oleh : KH Aby Muhammad Zamri Tuanku Kayo Khalifatullah

Saudaraku..Berjumpa dengan bulan Ramadhan merupakan kenikmatan yang sangat besar. Selama Ramadhan Allah menjadikan waktu-waktu spesial yang penuh dengan berkah, agar para hamba-Nya memanfaatkan kesempatan emas tersebut dan berlomba-lomba meraih berkah, hidayah dan maghfirah-Nya.

Maka selayaknya seorang muslim benar-benar merasakan dan menjiwai nikmat tersebut. Betapa banyak orang yang terhalang dari nikmat ini, baik karena ajal telah menjemput, atau karena ketidakmampuan beribadah sebagaimana mestinya, karena sakit atau yang lainnya, ataupun karena mereka sesat dan masa bodoh terhadap bulan yang mulia ini.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya ini. Berdo’a kepada-nya agar dianugerahi kesungguhan serta semangat dalam mengisi bulan mulia ini, yaitu dengan ibadah, i’tikaf, Tilawah dan zikir kepada-Nya.

Ramadhan adalah momentum perubahan dan kebangkitan umat. Bulan paling istimewa dan paling utama, serta paling kondusif bagi kaum muslimin, secara individual maupun komunal, untuk melakukan upaya-upaya penempaan, perbaikan dan perubahan diri serta kehidupan dalam rangka mencapai tingkat keimanan, ketaqwaan dan keshalehan yang lebih tinggi, dan untuk menggapai derajat kepribadian mukmin-mukmin sejati yang diidam-idamkan.

Sebagai sarana perubahan ini, terutama perubahan diri, Ramadhan ibarat kepompong yang merubah seekor ulat bulu yang menjijikan menjadi seekor kupu-kupu indah nan terbang menawan.. Perubahan ke arah lebih baik tak akan terjadi jika tak melewati masa kepompong ini. Pada masa inilah, kita di uji dengan berbagai cobaan hingga mencapai derajat terpuji.

Ramadhan adalah bulan kejayaan islam
Pada bulan inilah umat islam dahulu bangkit menuju kejayaan diri dan nurani. Umat muslim bergerak meningkatkan kualitas jiwa, ibadah, dan muamalah menuju peradaban qur’ani yang menggema di sentero jagat raya. Tinta emas dan goresan pena sejarah terukir pada bulan ini.

1. Pada bulan Ramadhan diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia dan berisi keterangan-keterangan tentang petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil;
2. Pada bulan ini terjadi peristiwa besar yaitu Perang Badar, yang pada keesokan harinya Allah membedakan antara yang haq dan yang bathil, sehingga menanglah Islam dan kaum muslimin serta hancurlah syirik dan kaum musyrikin;
3. Pada bulan suci ini terjadi pembebasan kota Makkah Al-Mukarramah, dan Allah memenangkan Rasul-Nya, sehingga masuklah manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong dan Rasulullah menghancurkan syirik dan paganisme (keberhalaan) yang terdapat di kota Makkah, dan Makkah pun menjadi negeri Islam;
4. Peristiwa proklamasi kemerdekaan RI terjadi pada 17 Ramadhan;
5. Pada bulan yang penuh Rahmat, Berkah dan Maghfirah ini, sekitar 30 lalu, saya pertama kali “Terbuka Hijab.” Sejak itulah saya Hijrah dan melaksanakan tugas dari-Nya untuk Membangun Masyarakat Sejahtera.

Ibadah puasa di bulan ramadhan ternyata membawa efek pada proses pemersatuan umat ini. Rasa individual berkurang, sikap egois mengikis, dan kasih sayang antar sesama merona dalan nuansa kehidupan masyarakat. Dengan puasa kita akan merasakan bagaiamana lapar dan haus yang dialami oleh orang yang kelaparan, bagaimana sedihnya hati para masakin yang tak mampu membeli sesuap nasi.

Hal ini akan menimbulkan jiwa empati dan simpati dari yang kaya kepada yang miskin, yang kuat kepada yang lemah, dan yang atas kepada yang bawah. Di bulan ini pula kesadaran akan kebersamaan meningkat. Hal ini sungguh potensial untuk membawa masyarakat pada persatuan.

Puasa, sebagaimana ibadah lain dalam Islam, memiliki dua dimensi, hablun min Allah (hubungan vertikal dengan Allah swt.) dan hablun min an-nas (hubungan horisontal antar-manusia). Seseorang yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan (imanan wa ihtisaban), maka secara tidak langsung dalam pengabdiannya kepada Allah itu juga akan termanifestasi pengabdiannya kepada kemanusiaan. Dimensi sosial dari puasa itu antara lain terlihat bahwa jika seseorang karena suatu halangan tertentu tidak berpuasa, maka baginya diwajibkan memberi makan sejumlah fakir-miskin.

Dengan demikian makna sosial dari puasa itu adalah menumbuhkan solidaritas sosial atau kepedulian sosial kepada kelompok yang susah dan lapar. Dengan demikian, ibadah puasa diharapkan dapat menumbuhkan dalam diri seseorang keinginan untuk selalu mengorbankan atau mendermakan sebagian harta demi membantu fakir miskin kapan saja, bukan hanya pada bulan Ramadan.

Maka beruntung dan berbahagialah orang-orang yang mampu dan mau mengoptimalkan pemanfaatan momentum istimewa ini, sehingga pasca Ramadhan iapun seperti terlahir kembali – dengan izin dan taufiq Allah – menjadi sosok pribadi mukmin baru yang serba istimewa pula. Dan sebaliknya, merugilah – di dunia dan di akherat – orang-orang yang mengabaikan dan menyia-nyiakannya, sehingga Ramadhan demi Ramadhan lewat dan berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan perubahan apapun dalam diri pribadi dan kehidupannya. Wassalam. (az)