RITVone, Payakumbuh – Terkait relokasi (pemindahan) Incinerator ( mesin pembakaran limbah medis padat B3 ) RSUD Adnaan WD Payakumbuh ke Talowi, notabene kawasan pemukiman padat, diduga berdasarkan rekomendasi lisan tiga orang yang mengaku tokoh setempat, akhirnya di Labrak/ ditolak keras warga setempat.

Setidaknya, tim investigasi media ini, menyimak pertemuan yang berlansung di Mesjid setempat, Minggu, 5/4 malam antara rombongan Pemko Payakumbuh, diantaranya Kadis Kesehatan Kota Payakumbuh, dr. Elzadaswarman, Asisten II Setko Payakumbuh, Drs, Amriul Dt. Karayiang, Dirut RSUD Adnaan WD, dr. Efrizanaldi, Camat Payakumbuh Utara, Drs. Nofriwandi, serta hadir Ketua KAN Koto Nan Godang, Andaroza Putra Dt. Pati Baringek, Alkhudri Dt. Rangkayo Mulie dan Candra Septipon ( dua terakhir tercatat anggota Legislatif) serta Lurah Ompang Tanah Sirah dalam barisan pejabat Pemko Payakumbuh, agaknya telah dipermalukan warga pada pertemuan tersebut.

Pasalnya, dari dialog yang berlangsung antara rombongan Pemko Payakumbuh yang dimotori Kadis Kesehatan, meskipun dengan berbagai upaya katakan keberadaan Incenerator tidaklah akan berdampak negatif bagi masyarakat setempat, demikian bujuk Kadis Kesehatan Kota Payakumbuh.

Hal yang sama juga dipaparkan Camat Payakumbuh Utara, Nofriwandi, bahwa keberadaan Incenerator, selain telah sesuai aturan dan hal itu juga untuk kepentingan masyarakat Kota Payakumbuh umumnya dan masyarakat setempat, ujar Camat.

Pada kesempatan lain, tanggapan warga yang hadir secara tertib dan diwakili Debi saputra,
Edi london, dan Ranus sepakat secara tegas menolak atas relokasi Incenerator ( mesin pemusnah limbah medis padat B3) dipaksakan berada di kawasan padat penduduk mereka.

Ditegaskan, baik Debi, Edi London serta Ranus, ” Kami jangan dibodoh-bodohi dengan bahasa klasik. Jika benar alat tersebut tidak berbahaya, kenapa keberadaannya ditolak oleh dua nagari tetangga. Juga kenapa pemindahan alat tersebut sosialisasinya terkesan sembunyi-sembunyi dan berikan uang transportasi kepada warga tertentu saja senilai Rp.50 ribu/ orang.

Dikatakan Edi London, menanggapi paparan Camat,” Bapak jangan coba bodohi kami. Kami lebih tahu dengan daerah ini, karena Bapak bukanlah orang sini. Agaknya Pemerintahan Kota Payakumbuh, perlu diberi pembelajaran bagaimana menjalankan pemerintahan”, demikian kecam Edy.

Terus, Ranus tak kalah kecamannya kepada rombongan Pemko Payakumbuh yang hadir dan juga terlihat Lurah, Ketua KAN dan dua anggota legislatif tertunduk layu, karena Pemerintah telah semena-mena mena dan tidak tunjukan kinerja yang baik serta sesuai aturan, terkait pemindahan alat yang disebut menimbulkan virus berbahaya untuk kemaslahatan warga, juga disebutkan tidak mengantongi Izin dari Kementerian Lingkungan Hidup serta Amdal itu, demikian kecamnya.

Dari kesimpulan penolakan warga atas relokasi alat pemusnah limbah medis padat B3 RSUD Adnaan WD itu, dalam rentang waktu dua- tiga hari kedepan warga sepakat membuat surat kesepakatan penolakan ke pihak terkait, demikian ungkap beberapa warga kepada wartawan. ( tim).