Ritvone, Padang – Lembaga Baiyo Batido, Sungai Sapih Kenagarian Pauh IX Kota Padang, hidupkan budaya basilek bagi generasi muda, Kamis (29/03/18) tuo silek menerima 20 orang anak murid untuk dilatih menjadi pendekar perguruan silat Tikam Tuo, yang dihadiri oleh Ketua IPS Sumatera Barat, Ketua IPSI Kota Padang, Lurah Kelurahan Sungai Sapiah beserta Tokoh masyarakat Sungai Sapiah.

Prosesi penerimaan murid diawali dengan menyemblih ayam untuk masing-masing peserta oleh guru yang akan menurunkan ilmunya, kemudian ayam tersebut dimasak oleh ibuk-ibuk setempat, dan dimakan bersam-sama, setelah latihan dilaksanakan.

Ketua IPSI Sumatera Barat DR. Fauzi Bahar,M.Si dalam sambutan menyampaikan kekhawatiran hilangnya ilmu silat di Ranah minang, kalau yang muda-muda tidak mau mempelajarinya dari yang tua-tua,  “jangan sampai guru-guru silek mambawo ilmunyo mati sebelum diturunkan, kalian harus pelajari silek minang sebelum mempelajari bela diri lainnya, ingek guru-guruk silek ndak akan memanggil kalian belajar kepada mereka, tapi kalianlah yang harus menemui, meminta ilmu mereka” tegasnya.

Zainal Abidin Thaher salah seorang Pengurus Lembaga Baiyo Batido menjelaskan bahwa kegiatan silat malam ini, sebagai salah satu program dari Lembaga Baiyo Batido, “Kami dari pengurus ingin memelihara dan menjaga budaya minangkabau khususnya di Sungai Sapiah ini, perlu ananda ketahui lahirnya Lembaga Baiyo Batido berawal dari persengketaan tanah masyarakat 3 Nagari Pauh IX, Koto Tanah dan Nanggalo yang terdiri dari 6 kelurahan, Dadok Tunggul Hitam, Bungo Pasang, Koto Panjang, Ikua Koto, Air Pacah, Sungai Sapiah dan Kurao Pagang dengan luas lebih +765 hektar yang ingin di kuasai oleh seseorang yang berinisial (LS) dari Suku sikumbang berdasarkan vonis Landrat Padang nomor 90 tahun 1931 padahal luas tanah dalam vonis tersebut lebih kurang hanya 2.5 hektar dengan batas spadannya Barat dan Selatan Batang Ai Kurao, Utara dengan kebun si Balong dan Timur dengan Banda Ai Sirah di baliknya kebun si Taka, lokasinya hanya di Tunggul Hitam Dadok, untuk satu RT saja tidak cukup di kelurahan Dadok Tunggul Hitam apa lagi melebar sampai 6 kelurahan” tukas Zainal Abidin Thaher salah seorang penggagas lahirnya Lembaga Baiyo Batido untuk hadapi persoalan tanah tersebut. “kami berharap kalian menjadi anak kemanakan yang cerdas, terampil, dekat dan belajar dengan yang tuo-tuo agar kalian tidak dibodohi orang karena ketidak tauan sejarah negeri kalian, belajar silat dengan nan tuo adaloh salah satu cara kelian dekat dengan mereka” tambahnya.

*eg*