Ritvone, Jambi – Ketua Umum Persemakmuran Pewaris Nusantara, DYMM Kangjeng Sulthan Abdul Djalil Khalifatullah menegaskan Masyarakat Adat Nusantara harus berani keluar dari zona nyaman (COMFORT ZONE), Rabu (28/03/18) sehingga mampu membuat perubahan dalam hidupnya. Tanpa keberanian keluar dari zona nyaman, Indonesia akan terus dihadang oleh kemiskinan, pengangguran, ketimpangan dan kesenjangan sosial.

Hal ini disampaikan Kangjeng Sultan Abdul Djalil kepada Wartawan Surat Kabar JENIUS sambil menikmati Sate Padang di Rumah Makan Edi di Kota Jambi, selesai Beliau menghadiri Diskusi di Rumah Sehat Al-Hikmah bersama Pakar Adat, Budaya, Sesepuh masyarakat dan Peneliti Kesultanan Jambi, yang mengangkat tagline “Dari Jambi Kita Merekonstruksi Nusantara Menjemput Indonesia Sejahtera”. Kangjeng Sulthan Jepara (Pelestarian) itu menekankan pentingnya melestarikan dan mengembangkan budaya, kreatifitas, optimisme, kepedulian, bahu membahu, dan TEROBOSAN POLITIK. Semua itu demi meningkatkan KUALITAS HIDUP UMAT kepada taraf yang lebih baik.

“Untuk itu Diperlukan Presiden yang mampu melakukan langkah-langkah terobosan diperlukan Kepala Negara yang berkarakter Nusantara, diperlukan Pemimpin Bangsa yang Berjiwa Umat, diperlukan lembaga-lembaga negara yang kuat, efektif dan BERSINERGI agar dapat mendukung pelaksanaan pembangunan yang lebih terintegrasi, berwawasan ke depan, dan berkesinambungan. Sehingga dpat mengatasi berbagai masalah utama bangsa ini,” jelas Kangjeng Sulthan Abdul Djalil.

Menurut Kangjeng Sulthan Jepara (Pelestarian) itu, Keluar dari zona nyaman (COMFORT ZONE) adalah sebuah keharusan jika Indonesia ingin maju. Jika masih terus berada di zona nyaman, maka Indonesia tidak akan pernah beranjak dari kondisi yang ada saat ini. Apalagi untuk memenangkan persaingan di era kompetisi global. Karena itulah Indonesia memerlukan Presiden yang PIAWAI dalam memimpin Umat agar bisa KELUAR dari Zona Nyaman.

“Salah satu tugas terberat Calon Presiden pada Pilpres 2019 adalah “MEMBACA ALAM TERKEMBANG.” Sehingga dia bisa MEMETAKAN keadaan yang terjadi dengan sebenarnya, atau yang kita sebut sebagai REALITA, mendefinisikannya, merangkaikannya dengan fenomena lain, MERUMUSKAN permasalahannya, lalu MEREKONSTRUKSI melalui sebuah proses empiris untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut,” kata Kangjeng Sulthan mengingatkan.

Menurut Sulthan Abdul Djalil, Presiden Indonesia Masa Depan haruslah seorang PROBLEM SOLVER. Karena itu dia harus berperan sebagai perumus permasalahan yang ada pada kehidupan manusia Indonesia sehari-hari, PEMBUAT SOLUSI, dan mengimplementasikannya dalam pemerintahan untuk kehidupan manusia Indonesia yang lebih baik, yakni Masyarakat Indonesia yang Adil dan Makmur. (az)