Disampaikan oleh:
Ustadz Eri Gusnedi, M.A
س: كَيْفَ الاِعْتِقَادُ ببصر الله تَعَالَى؟
ج: هُوَ أَنْ نَعْتَقِدَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى موصوف بالبصر وأنه بكل شيء بصير, يبصر حتّى النملة السوداء في الليلة الظلماء وأصغر من ذلك, لايخفى عن بصره شيء في ظاهر الأرض وباطنها, وفوق السماء وما دونها, لكن بصره تَعَالَى ليس كبصرنا: فإن بصرنا يكون بواسطة العين, وبصره تَعَالَى ليس بواسطة شيء.
Soal       Bagaimana cara meyakini bahwa Allah  itu Maha Melihat (Bashar)?
Jawab    Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah itu bersifat Maha Melihat, danDia Maha Melihat atas segala sesuatu. Dia Maha Melihat hingga semut hitam kecil berjalan di malam gelap gulita sekalipun, bahkan yg lebih kecil dari itu (atom). Tidak ada yg dapat bersembunyi dari penglihatan Allah, baik yg ada di bumi maupun di luarnya, baik yg ada di langit maupun di luarnya. Namun, penglihatan Allah berbeda dengan kita sebagai makhluk. Sesungguhnya penglihatan kita membutuhkan perantara  yakni  mata, sedangkan  penglihatan  Allah  tanpa membutuhkan alat perantara
Asy-Syura, 11
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura, 11)
س: كَيْفَ الاِعْتِقَادُ بكلامه الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ؟
ج: هُوَ أَنْ نَعْتَقِدَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ موصوف بالكلام وأن كلامه لايشبه كلامنا: فإن كلامنا مخلوق فينا وبواسطة آلة من فم ولسان وشفتين, وكلامه سُبْحَانَهُ ليس كذلك.
Soal       Bagaimana cara meyakini bahwa Allah  itu Maha Berbicara (Kalam)?
Jawab    Hendaklah kita meyakini bahwa Allah itu bersifat Maha Berbicara. Akan
tetapi kalam Allah tidak sama dengan kita sebagai makhluk Nya. Sesungguhnya pembicaraan kita diciptakan dalam diri kita dan membutuhkan alat perantara berupa mulut, lidah serta kedua bibir. Sedangkan Kalam Allah tidak seperti itu (tidak butuh alat perantara)
Annisa’ 164
…وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
“…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”