24 Jam

“Aku mencintainya!!” kalimat itu terucap jua dari lidahnya. Tegas. Yan, begitulah orang memanggilnya. Orangnya tampan, gaul, pintar dan juga aktifis. Ia bahkan sudah aktif di berbagai organisasi sejak berada di sekolah menengah. Semasa sekolah, tak ada yang tidak mengenalnya. Pandai bergaul. Banyak teman. Tapi tetap tak ada yang tahu isi hati Yan!
“Hah!!” lawan bicara Yan terkejut setengah mati mendengar ucapannya. Jauh di belahan dunia sana ia hampir melepaskan gagang telepon yang berada dalam genggamannya. Suasana hatinya berubah. Perasaan ituuhg! Ia tak pernah menyangka Yan yang selama ini dikenalnya sebagai sosok pemuda muslim sejati ternyata juga terkena serangan virus merah jambu yang ganas itu. Dan sekarangapa yang terjadi? Kakak kelasnya yang laki-laki itu harus berbicara masalah ini dengan dirinya. Perempuan!
“Bang Yan jatuh cintaa?!” perempuan itu masih larut dengan keheranan dan ketidakpercayannya. Tidak mungkin ini terjadi.”Dengan siapa, Bang??” kali ini sifat wanitanya keluar. Nada tanyanya bahkan melebihi introgasi seorang polosi pada penjahat kelas kakap. Memburu. Yan tidak percaya juga kalau adik kelasnya yang ia tahu pendiam, tertutup dan tak banyak tanya itu tiba-tiba jadi orang paling penasaran di dunia.
“Adekemau bantu saya”
“Bantu nembak maksud, Abang?!” nada bicara si perempuan berubah meninggi. Segera ia memotong pembicaraan Yan. Ia tidak senang! Ada apa gerangan yang terjadi disana?!
“Sampaikan maafku padanya!” Yan melanjutkan kata-katanya yang sempat terputus. Datar dan tegas. Ia ingin mengutarakan semua salah yang tanpa sengaja telah diperbuatnya
“Saya telah bersalahhati ini telah berbuat dosamemikirkan, membayangkan, berburuk sangka” cerita itu mengalir dari bibir Yan. Tulus. Tanpa harus diutarakan ketulusannya. Benar-benar kisah seorang pemuja rahasia. Siapa pun yang mengenal Yan pasti takkan pernah tahu pergolakan hatinya menghadapi hal yang satu ini. Dihadapan semua ia terlihat tegar. Kokoh. Tak punya beban pikiran. Tapi sekarang
“saya tak ingin perasaan ini merusak cinta pada Yang Maha Kuasa. Tapie”
“Tapi apa, Bang?” pendengar setia Yan akhirnya bersuara. Yan memang pandai memancing lawan bicaranya. Tak salah kalau ia sering diamanahi jadi moderator di beberapa diskusi terakhir yang diadakan kekeluargaannya.
“Esaya juga tak ingin berlarut lama dalam perasaan yang tak menentu ini”
“Meminangnya maksud, Abang?!” Yan tersentak seketika. Ia seakan ditusuk dengan belati. Tajam. Kesungguhan Yan dipertanyakan. Konsentrasi yang di bangunnya sebelum menelpon pecah. Beginikah perempuan jika diajak bicara cinta? Rupanya setiap kaum hawa tak mau kalau diri mereka hanya dijadikan boneka dalam bercinta. Mereka punya kemulian. Harus dijaga! Pikiran Yan kacau.
“EheSaya ingin tahu bagaimana tanggapannya dulu” gemetar Yan mencoba mengalihkan pembicaraan. Jurus para pecinta terpaksa digunakan Yan. Ia tak mau berlama-lama dengan pertanyaan perempuan itu. Permintaannya belum dikabulkan. Soal pinang-meminang urusan belakangan. Itu isi pikiran Yan saat itu.
Keduanya diam. Suasana berubah sepi seketika. Hening.
“Oke! Aku siap ngebantuin Abang” kesanggupan bekas anggota Yan di OSIS dulu memecah keheningan waktu itu. Sebuah pikiran terlintas dibenaknya. Membantu orang menyempurnakan setengah agamanya, mengapa tidak?
“Siapa orangnya, Bang? Biar aku yang ngasih tau!”
“Bener nihmo bantuin!” Yan ingin hatinya tenang sebelum buka-bukaan. Kesanggupan Si Adik mesti dipastikan dulu. Ini soal nama baik Ahmad Yani.
“Yup! Aku siap!”
Hening sesaat lagi.
“NamanyaehmmMaharani”
“Tuttuttuttut!!!”
Tiba-tiba sambungan telepon terputus. Sudah lebih 30 menit. Account SipPhone Yang barusan dibeli Yan sudah kosong. Tangan Yan spontan mengorek-ngorek saku bajunya. Lalu saku celana. Secarik kertas berisikan account lama kini sudah dalam genggaman. Dengan lincah tangan Yan memainkan keyboard dihadapannya.
“Balance : $ 0” kosong! Yan cemas. Bingung. Takut terjadi salah paham dengan adik kelasnya yang bernama Rani itu. Beli account baru? Tidak mungkin! Yang tadi saja pakai uang pinjaman. Ngutang ke penjaga warnet? Juga tidak mungkin. Yan baru pertama kali main di warnet ini.
“Tiktiktik” secepat kilat jemari Yan menekan tombol-tombol HP-nya. Hanya SMS yang bisa jadi andalan Yan di saat-saat genting seperti ini. Wajah Yan terlihat serius. Satu kalimatduatiga
“Ding!…dong!…ding!…” Bunyi bel klasik pertanda SMS masuk mengagetkan Yan yang sedang bingung merangkai kata.
“Aslm!Hati2BermainKtBang!!AbngSdrDgnApaYgAbngUcapkn??Main2NinAq?CndainAq?KnpDmtkn?Wht’sUpBro?!Bls!” Yan bingung kian kepalang. Rani tau nomor HP-nya darimana pun tak sempat dipikirkannya. Yan kembali merangkai kata. SMS-nya masih terbengkalai. Siiip! Selesaisendsearchran
” Ding!…dong!…” SMS kedua masuk. Pengirim yang sama.
“Ngg’UshDbls!HrsnyAbngSdrDgApaYgAbngLkkn.YknknDrmBng!MntlhPd-Nya!Faiza’azamtaFatawakkal’alallahabngLbhNgrtSmany” Yan terpaku diam. Dirinya seakan terbenam ke dasar bumi dipukul si palu raksasa. Inikah yang diinginkan Yan? Ohlampu hijaukah ini? jawaban inikah yang ingin didengarnya dari lisanoh
“Astaghfirullah! Apa yang telah kulakukan”yang bersahut lirih minta ampu pada Ynag Kuasa. Ditutupnya SMS Rani. Tanganya mengetik SMS baru. Selesai. Senddan pesan pun terbang ke Indonesia.
*    *    *
“Sek!…catat tuh nama-namanya! Yang enam ke atas, Ya! Saya belum sholat” Agus melempar Flash Disk yang disambut genggaman Tangan Yan. Sek itu panggilan Yan sejak ia menjabat sekretaris penyambutan mahasiswa baru di kekeluargaannya. Tak hanya itu, Yan juga menjabat sekretaris dua dan layouter sebuah buletin di organisasi yang sama. Lumayanuntuk anak yang baru setahun menginjakkan kakinya di tanah para nabi ini. Sebenarnya berat hati Yan menerima jabatan itu. Ia tidak mau disibukkan dengan organisasi. Tujuannya ke kairo ingin belajar pada para syeikh terkemuka. Talaqqi. Tapi apa boleh buat, teman-teman di kekeluargaan mempercayakan jabatan itu padanya. Menurut mereka, Yan itu berpotensi. Yan jayyid pada tahun pertamanya di Azhar. Nilainya bahkan mendekati jayyid jiddan. Belum aktif di organisasi manapun yang ada di Kairo. Dan terpenting Yan ahli dalam otak-atik komputer.
Empat bulan berlalu sejak Yan mengungkapkan isi hatinya pada sang pendamping impian. Setelah itu Yan tidak pernah menelponnya. Tidak pula SMS-an. Sekali Yan pernah menerima telepon dari Rani. Yan sendiri hanya dua kali menelpon ke Indonesia. Dua-duanya menghubungi keluarga. Sekali mengabarkan kesuksesannya naik ke tingkat dua. Orang tuanya sangat bahagia waktu itu. Kali kedua Yan minta izin untuk nikah. Tahu bagaimana tanggapan orang tuanya waktu itu? Begini si ibu menaggapi permintaan anaknya”Nikah!!!…hukhukbelumhuksetahun  amak lapeh Ang barajahukalah itu lo nan tapangana! Manga se Ang di situ?” begitulah ibunya menanggapi keinginan Yan untuk menikah. Itu belum seberapa, simak kelanjutannya”lai tau lo amak anak-anak mudo tu harus capek manikahhuktapi Ang! Masih terlalu mudo tuk itu, Yan”. Keadaan hening sesaat.”Kok ka iyo juohukterserahlah!!” roboh sudah pondasi yang dibangun Yan. Kegundahan mulai tumbuh dalam dirinya. Apa hanya sebatas itu sang ibu menilai anaknya? Benar kalau Yan masih terlalu muda. Sewaktu akan berangkat ke Mesir umur Yan baru enam belas tahun satu bulan. Tapi satu tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah perubahan. Atau ibunya kecewa dengan permintaan Yan? Apa ibunya merasa dikhianati oleh Yan? Apa benar Ahmad Yani belum siap untuk menikah? Tak tahulahberbagai pertanyaan berseliweran di benak Yan setelah pembicaraan itu.
Tangan kanan Yan sibuk memainkan mouse. Cursor bergerak menelusuri nama-nama calon mahasiswa Al-Azhar non DEPAG 2006/2007. Tahun ini DEPAG menyeleksi siapa saja yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Azhar. Beasiawa, atau tidak. Sewaktu Yan ke Mesir seleksi itu belum ada. Menurut informasi terpercaya, seleksi ini sengaja dilakukan untuk membatasi kebanjiran mahasiswa yang datang dari Indonesia. Tidak itu saja! Konon kabarnya, keadaan ini dipicu oleh kemorosotan yang terjadi di tengah-tengah komunitas mahasiswa Indonesia Mesir. Tidak hanya segi pendidikan, ini bahkan merambat ke permasalahan moral.
“No. 36Maharani” Yan sudah tidak terkejut melihat nama adik kelasnya di deretan mereka yang lulus seleksi. Rani itu pintar. Bintang kelas. Yan sudah menduga kalau Rani akan lolos seleksi sejak mendengar kabar ia ikut seleksi. Kabar itu didengar langsung oleh Yan dari Rani lewat telponnya sebulan yang lalu. Tepatnya sebelum Yan menelpon ibunya untuk yang kedua kali. Kalau ingat kejadian itu, mendung selalu menghiasi hati Yan”Bang! ini RaniInsya Allah Ran ikut seleksi Depagbukan! Seleksi non beasiswakan kalau beasiswa nunggu setahun mohon doanya, Bang!…” Yan hanya meng-iya-iyakan Rani waktu itu. Jiwa minang Yan muncul saatperbicaraan itu. Pepatah alun takilek alah takalam begitu melekat dalam dirinya. Untuk apa Rani menelponnya? Apa ada hubungannya dengan percakapan mereka dahulu? Yan bertanya-tanya sendiri. “Apa maksud pemberitaan ini? Adakah Kau menuntut balik perkataan ku waktu itu, Ran?” ingin sekali Yan menanyakan dua pertanyan ini waktu itu. Tapi, Yan tidak berani.
“Ada lima puluhan, Gus! Masih teratas kitaaneh?! Semakin di tes, anak minang malah tambah banyak!” Yan lansung melaporkan hasil kerjanya ketika Agus datang mendekati.
“Tak salah, Kau! Hitung lagi, ya!” keheranan Yan bertambah. Entah sejak kapan ketuanya ini mulai cinta logat batak.”Siiiplah!” mereka berdua lalu larut dengan pendataannya. Sesekali mereka ketawa mengingat-ingat orang yang namanya tertera di lampiran data. Agus ketawa keras sekali. Beribu cerita mengalir di sela-sela tawanya. Yan hanya manggut-manggut. OhAgus, tahukah Kau apa yang bergulir di hati Yan? Kau takkan pernah tahu!
*    *    *
Nada Roll On dari HP Nokia 1112 kepunyaan Yan bersenandung subuh itu. Ini kali ketiga nada dering itu menyapa Yan. Pukul empat lima belas. Yan masih terlelap. Tadi malam ia terlambat tidur. Ada kunjungan kekeluargaannya ke anggota yang ada di daerah. Baru pukul dua belas Yan sampai di rumah. Nada roll on berhenti. Suasana kembali tenang. Sesaat kemudian nada ding dong menyapa. Sedang Yan, tetap dengan mimpinya.
Yan!ini fajri. Knp tlpn ng’ d angkt?nnti chat ya! jam 8cai.penting!!!
“Penting?!…” Yan mengernyitkan dahinya ketika membaca SMS yang masuk tadi pagi. Waktu bangun tidur Yan tak sempat melihat ponselnya. Setelah kembali dari masjid baru ia membaca pesan itu.  Sekarang pukul delapan limabelas. Segera ke warnet
*    *    *
“Assalamu’alikum w w!”
“Ada Apa?!…sehat, Fajriiiiiiii?” Yan langsung menyapa Fajri ketika melihat email fajar_cai86 lagi On di list YM-nya.
“Wa’alaikalhmdllh! U sht? soal MABAhe2” Farji membalas sapaan Yan. Ia juga salah satu panitia MABA yang diutus untuk urusan di Indonesia.
“Ooooknp emang? Ishol sdh dikirimdsni berestgl penyambutanmslh tiket kah?” Yan mencari tahu letak penting yang dikatakan temannya.
“Nga’! soal rani” Yan kaget. Tapi belum tentu itu dia.
“Yg mana? Ada dua rani”
“Yang pakai mahalhe2”
“Trussada apa? Salah tls nama? Ngga’ dpt tiket? Atw skt?” Yan belagak cuek. Seakan tak mengenali Rani secara dekat. Yalebih dekat.
“Dia mo nikah, bro! N I K A H”
“”Trusscertny kita dsrh cari rumah 4 keluarga nih? Snggp sw berapa?” masih cuek. Yan pura-pura saja melayani Fajri sebagai seorang panitia. Hatinya? Allah yang tahu.
“Alahhhhhhni bukan Pan2anI udah tausi ran ndiri yg cerita” Fajri sukses bikin Yan jungkir balik. Impian Yan diambil orang. Kerahasiaan pemujaannya pun terkuak. Ohtidak!
“Tautempe gorengmu!…oooooooooii ada apa, oi?” Yan sudah tak tahu harus nulis apa. Dia gelisah.
“Serius, Yan! Jgn bercandaI tak puny wkt bnykjam1 janji ketemu mamak d kedainy!” Fajri menjebak Yan. Sekarang di kairo pukul 8.55. Ditambah empatsepuluh menit lagi. Tak ada waktu main-main lagi.
“Sdh brp orng yg makn tahu?” Yan menyerah.
“Tenang sajaaman! Daku seoranghe2. U bisa percaya padakuha2″
” Katany seriusjng main2!tak ketemu mamak tak dapt fulus kau nanti!” Yan tak mau jadi bulan-bulanan kawannya yang satu ini. Dia benar2 dalam dilema.
“Begini ceritanyaada yang datang pada Rani. Persis seperti yang kau lakukan. Bedanya dia disini. Di Indonesia. Masih satu sekolahan. Adik kelas kita. Firdaus namanya. Kamu tentu tahu bagaimana orangnya, tempat tinggalnya yang sekomplek denganAku tak harus cerita. Dia masih adik kelas kita yang dulu, bahkan lebih. Tiga hari lagi dia dan keluarganya mau ke rumah Ran. MengK H I T B A Hnya. Rani minta padaku untuk menghubungimu. Bagaimana dengan pembicaraan dulu? Sampai disitu saja, kah? Katanya lagiahsusah membahsakannya. Begini saja, Yan! Kalau Kamu seriushubungi Aku dalam dua puluh empat jam. Insya Allah kami disini siap membantu. Untuk teman sendiri apalah, Yan! Yang penting kokohkan dulu dirimu. Hubungi orang tua. Dan ingat! mintalah pada-Nya. Ha2jarang Aku serius seperti ini, Yan! Senangnya kalau bisa bantu teman sendiri, apalagi masalah ini. Aku siap!” Yan mencermati satu per satu kalimat yang dituliskan Fajri. Hatinya jangan ditanya. Kalut. Takut. Cemas. Harap. Yan bimbang.
“Buzz!” Yan terkejut.
“Sudah dulu. Ditnggu beritany! Wss.” “Fajar_cai86 singed out!” kini Yan sendiri. Matanya masih menatapi layar monitor. Lidahnya mengeja-eja kata demi kata yang ditulis Fajri. Dua puluh empat jam terlalu singkat. Apalagi kalu harus meyakinkan orang tuanya. Yan dalam dilema. Kini semuanya bergantung pada keputusannya. Maju dan mewujudkan harapan hidup dengan pendamping idaman. Atau mundurohpahitnya keputusan itu. Yan kalut. Kepala Yan dipenuhi ingatan percakapannya dengan Rani. Lalu percakapan dengan ibunya. Tiba-tiba tulisan Fajri datang melintasi. Dan kinisemuanya tampil seperti sebuah slideshow photo. Lambat. Cepat. Tambah cepat. Makin cepat. Dandan”Ya, Allah! Bantulah hambamu ini!” hanya permohonan itu yang terdengar seperti bisikan dari lisan Yan.
*    *    *
Siang itu Cairo Airport tidak terlalu ramai. Panitia penyambutan MABA KMM sudah standby di sana. Mereka siap menanti kedatangan Mahasiswa baru dari Sum-Bar yang akan datang.  Ada Yan disana. Wajahnya kelihatan cerah. Sebuah senyum merekah di bibirnya. Hatinya tenang sejak sebuah keputusan besar diambilnya. Berat memang. Penuh ujian. Tapi itulah hidup, semua harus dilalui.
Dari arah loket kedatangan tampak puluhan wajah asia. Rata-rata berjas rapi, lengkap dengan dasinya. Semangat juang terukir di wajah-wajah mereka. Yamereka membawa harapan baru bagi ibu pertiwi. Satu persatu mulai keluar. Sambutan hangat dari panitia langsung menyambut mereka. Pelukan. Tawa ringan. Ada yang menangis. Sungguh mengharukan.
“Bang!” sebuah panggilan dibarengi tepukan di bahu menghentikan Yan yang sibuk memasukkan barang MABA ke bagasi bus. Firdaus, adik kelas yang sempat ta’lim dan setor hapalan pada Yan semasa di Padang Panjang datang menghampiri. Di sampingnya, berdiri seorang perempuan yang masih dikenal Yan.
“AhlaaaanDaus?! Barakallahu laka wa” Yan langsung menyambut yuniornya dengan pelukan. Tak lupa ucapan selamat pun terlantunkan dari lidahnya.
“Langsung ke bus! Urusan barangserahkan pada kami!”. Dan sebuah senyum masih merekah di bibir Yan. selesai

Kosa kata:
amak lapeh Ang baraja  : Mak lepas engkau pergi belajar
alah itu lo nan tapangana!  : Sudah masalah itu yang ada di pikiranmu!
Manga se Ang di situ?   :  Apa saja yang kau lakukan disana?
Kok ka iyo juohukterserahlah!! :  Kalau kau berkeras hatiterserah mau lakukan apa!
alun takilek alah takalam  :  Belum tampak apa-apa, tapi sudah jelas apa gerangan yang ada
Ishol  : bukti diterima di Azhar
MABA   :  Mahasiswa Baru
KMM    : Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau

M3, Distrc 10, Dar el-Kifah
The Myth