Disampaikan oleh:
Ustadz Eri Gusnedi, M.A
س: كَيْفَ الاِعْتِقَادُ بِمُخَالَفَتِهِ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ, أَيِ اْلـمَخْلُوْقَاتِ؟
ج: هُوَ أَنْ نَعْتَقِدَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى لَايُشَابِهُهَ شَيْءٌ: لَا فِيْ ذَاتِهِ وَلَا فِيْ صِفَاتِهِ وَلَا فِيْ أَفْعَالِهِ.

Soal       Bagaimana  cara  meyakini  bahwa  Allah  itu  bersifat  Mukholafatu  Lil Hawaadits (Berbeda dengan segala hal yg baru / makhluk )?
Jawab    Hendaklah kita meyakini bahwasanya Allah tidak menyerupai sesuatu pun, baik DzatNya, sifatNya maupun perbuatanNya

س: كَيْفَ الاِعْتِقَادُ بِمُخَالَفَةِ ذَاتِهِ سُبْحَانَهُ لِلْحَوَادِثِ؟
ج: هُوَ أَنْ نَعْتَقِدَ أَنَّ ذَاتَ اللهِ سُبْحَانَهُ وتَعَالَى لاَ تُشَابِهُ شَيْئًا مِنَ اْلـمَخْلُوْقَاتِ بِوَجْهِ مِنَ اْلوُجُوْهِ, فَكُلُّ مَا تَرَاهُ أَوْ يـَخْطُرُ بِبَالِكَ, فَاللهُ لَيْسَ كَذَالَكَ, (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ)

Soal       Bagaimana  cara  meyakini  bahwa  Dzat  Allah  itu    berbeda  dengan segala hal yg baru / makhluk ?
Jawab    Hendaklah meyakini bahwasanya Dzat Allah itu tidaklah sama dengan makhluk ciptaanNya, berupa wajah misalnya. Segala hal yang kita lihat atau bayangkan dalam hati maka Allah tidaklah seperti bayangan tersebut.   Laitsa   Kamitslihi   Syaiun   (Tiada   satupun   yg   serupa denganNya)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الشورى:11)
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura, 11)

س: كَيْفَ الاِعْتِقَادُ بِأَنَّ صِفَاتِهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مـُخَالِفَةٌ لِصِفَاتِ اْلحَوَادِثِ؟
ج: هُوَ أَنْ نَعْتَقِدَ أَنَّ عِلْمَ اللهِ تَعَالَى لَايُشَابِهُ عِلْمَنَا, وَأَنَّ قُدْرَتَهُ لَايُشَابِهُ قُدْرَتَنَا, , أَنَّ إِرَادَتَهُ لَايُشَابِهُ إِرَادَتَنَا, وَ أَنَّ حَيَاتَهُ لَايُشَابِهُ حَيَاتَـنَا, وَأَنَّ سَمْعَهُ لَايُشَابِهُ سَمْعَنَا, وَأَنَّ بَصَرَهُ لَايُشَابِهُ بَصَرَنَا, وَأَنَّ كَلَامَهُ لَايُشَابِهُ كَلَامَـنَا.

Soal       Bagaimana cara meyakini bahwa Sifat Allah itu  berbeda dengan sifat segala hal yg baru / makhluk ?
Jawab    Hendaklah meyakini bahwasanya ‘ilmu (pengetahuan) kita tidak sama dengan pengetahuan Allah, Qudrah (Kekuasaan) kita tidak   sama dengan kekuasaan Allah, Iradah (kehendak)   kita tidak sama dengan kehendak Allah, Hayah (sifat hidup)   kita tidak sama dengan sifat hidupnya Allah, sifat mendengar (Sama’)  kita tidak sama dengan sifat mendengar Allah, Bashar (sifat melihat) kita tidak sama dengan pendengaran Allah  dan Kalam (sifat berbicara)  kita tidak sama dengan sifat kalam Allah.

س: كَيْفَ اْلاِعْتِقَادُ بِأَنَّ أَفْعَالَ اْلـمَوْلَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  مُخَالَفَةٌ لِأَفْعَالِ اْلحَوَادِثِ ؟
ج: هُوَ أَنْ نَعْتَقِدَ أَنَّ أَفْعَالَ اْلـمَوْلَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تُشَابَهُ أَفْعَالَ شَيْءٍ مِنَ اْلـمَوْجُوْدَاِت. لِأَنَّ المـَوْلَى سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَفْعَلُ اْلأَشْيَاءَ بِلَا وَاسِطَةٍ وَلَا آلَةٍ “إِنَّمَا أَمْرُهُ اِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ” وَأَنَّهُ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا لِاحْتِيَاجِهِ إِلَيْهِ, وَأَنَّهُ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا عَبَثًا أَيْ بِغَيْرِ فَائِدَةٍ لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  حَكِيْمًا.

Soal   Bagaimana cara meyakini bahwa Perbuatan  Allah itu  berbeda dengan perbuatan segala hal yg baru / makhluk ?

Jawab   Hendaklah kita meyakini bahwasanya perbuatan Allah Subhanahu Wata’ala  tidak  serupa  dengan  perbuatan  makhluqNya,  karena  Dia dalam berbuat sesuatu tidak membutuhkan perantara maupun alat. Firman Allah dalam surat yasin  Ayat 82 :
Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.
Dan hendaklah meyakini, bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tidak berarti karena Dia membutuhkannya. Juga kita harus meyakini bahwa Dia tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia atau tanpa guna, karena Dia bersifat Maha Bijaksana.